Dolar AS Menguat, Yen Terpuruk di Dekat Level Terendah 40 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS naik 0,12% ke 100,98, sementara yen Jepang bertahan di kisaran 161,95 per dolar, mendekati titik terendah dalam empat dekade.
- Kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan di Selat Hormuz dan data defisit perdagangan AS yang melonjak 42,2% menjadi sorotan pasar.
- Pelaku pasar menunggu risalah rapat Federal Reserve dan sinyal intervensi Jepang, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga AS mereda.

Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan dominasinya pada perdagangan Selasa (7/7), setelah dua hari sebelumnya mengalami pelemahan tipis. Di sisi lain, yen Jepang masih bergulat di dekat level terendah dalam 40 tahun terakhir, membuat para investor terus waspada terhadap kemungkinan intervensi otoritas moneter Negeri Sakura.
Indeks dolar yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,12 persen ke posisi 100,98. Sementara itu, euro terdepresiasi 0,11 persen menjadi 1,1426 dolar per euro. Sterling juga melemah 0,19 persen ke 1,3364 dolar setelah sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan di 1,3401 dolar.
Yen Jepang sempat menguat tipis 0,08 persen ke 161,95 per dolar, setelah menyentuh 161,66, namun masih berada dekat dengan titik terendah 162,83 yang tercatat pekan lalu. Meskipun ada sedikit tekanan beli akhir pekan lalu karena kekhawatiran trader akan perubahan strategi intervensi Jepang, lonjakan yen pada Kamis lalu dinilai bukan akibat aksi resmi pemerintah.
Pasar valuta asing nyaris tidak bereaksi terhadap laporan Iran yang menembakkan rudal ke kapal-kapal di Selat Hormuz. Insiden tersebut dikabarkan menyebabkan sebuah kapal tanker LNG Qatar berisiko meledak dan sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi rusak. Namun, kekhawatiran akan gangguan pasokan mendorong harga minyak mentah menguat. Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Capital Markets, menilai gencatan senjata di kawasan memang rapuh, tetapi baik AS maupun Iran tidak ingin memperluas konflik, sehingga pasar masih percaya diri.
Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengaku sedikit berkurang kekhawatirannya terhadap tekanan harga karena penurunan harga energi yang diperkirakan berlanjut. Sementara itu, anggota Dewan Pemerintahan Bank Sentral Eropa (ECB) Fabio Panetta menyebut prospek ekonomi zona euro masih rapuh dan menyerukan pengujian kebijakan moneter terhadap berbagai skenario mengingat perubahan besar dalam ekonomi global.
Data ekonomi AS menunjukkan defisit perdagangan membengkak 42,2 persen menjadi 77,6 miliar dolar AS pada Mei, sedikit di bawah estimasi ekonom yang sebesar 78,5 miliar dolar. Lonjakan impor barang modal ke rekor tertinggi dipicu oleh gelombang investasi AI. Angka ini menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua.
Pelaku pasar kini menanti risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang akan dirilis Rabu (8/7) waktu setempat. Ini merupakan rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Pekan lalu, Gubernur Fed Christopher Waller menyatakan bahwa forward guidance bisa menjadi alat yang berharga dalam kondisi tepat, namun juga bisa bermasalah jika digunakan secara tidak tepat. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS tahun ini sedikit mereda setelah laporan ketenagakerjaan yang mengecewakan. Berdasarkan data LSEG, investor kini memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 26 basis poin pada Desember, turun dari 38 basis poin sepekan sebelumnya.
Bagi Indonesia, penguatan dolar AS dan pelemahan yen dapat berdampak pada nilai tukar rupiah serta arus modal asing. Defisit perdagangan AS yang melebar juga berpotensi mempengaruhi permintaan ekspor Indonesia ke negara mitra dagang utama tersebut. Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi risiko bagi harga energi yang mempengaruhi beban subsidi dan inflasi domestik.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada langkah Bank of Japan dalam menahan pelemahan yen serta sinyal kebijakan Fed. Apakah intervensi nyata akan dilakukan atau pasar harus bersiap menghadapi volatilitas lebih lanjut?



