Hishammuddin: Kaitan Pencalonan Johor dengan Pengampunan Najib Tidak Logis
Baca dalam 60 detik
- Hishammuddin Hussein menegaskan bahwa proses pemilu dan pengampunan kerajaan adalah dua hal yang terpisah.
- Pernyataan Nazifuddin yang mengaitkan kemenangan besar BN di Johor dengan dukungan publik untuk pengampunan Najib dinilai tidak berdasar.
- Politik identitas dan ambisi pribadi disebut sebagai ancaman bagi stabilitas dan harmoni multiras di Johor.

Upaya menghubungkan hasil pemilihan umum Johor dengan kemungkinan pengampunan kerajaan bagi mantan Perdana Menteri Najib Razak dinilai tidak masuk akal. Demikian pernyataan tegas Datuk Seri Hishammuddin Hussein, anggota parlemen Sembrong, dalam sebuah acara bersama para veteran di Taman Sri Lambak, Sabtu (4/7).
Pernyataan Hishammuddin muncul sebagai respons terhadap komentar putra Najib, Mohd Nazifuddin Mohd Najib, yang menyebut bahwa kemenangan telak Barisan Nasional (BN) di Johor akan menjadi sinyal dukungan publik terhadap pengampunan bagi ayahnya. Nazifuddin sebelumnya mengatakan bahwa hasil pemilu dapat diartikan sebagai aspirasi rakyat yang berharap Najib mendapatkan pengampunan dari Yang di-Pertuan Agong.
Menurut Hishammuddin, proses pemilu dan proses pengampunan kerajaan memiliki mekanisme yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan. “Pengampunan dan sebagainya memiliki prosesnya sendiri. Pemilu juga memiliki prosesnya sendiri. Mencoba mengaitkan keduanya… itu tidak terlalu logis,” ujarnya kepada wartawan.
Hishammuddin, yang juga sepupu Najib, menilai pernyataan Nazifuddin lebih disebabkan oleh faktor usia dan pengalaman politik yang masih minim. “Mungkin karena ketidakberpengalaman,” katanya. Ia menekankan bahwa politik seharusnya tidak didorong oleh ambisi pribadi atau kepentingan jangka pendek.
Dalam kesempatan yang sama, Hishammuddin juga menyoroti bahaya politik identitas yang memecah belah. Ia mengingatkan bahwa eksploitasi isu ras dan agama demi keuntungan politik bertentangan dengan budaya moderasi dan inklusivitas yang telah lama dijunjung di Johor. “Sangat mudah selama pemilu untuk mempertentangkan satu ras atau agama dengan yang lain, tapi itu bukan cara kami di sini,” tegasnya.
Mengutip warisan kakeknya, pendiri UMNO Datuk Onn Jaafar, Hishammuddin mengajak para pemimpin muda untuk belajar dari pengorbanan para pendahulu yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. “Keluarlah dari pemikiran sempit. Keluarlah dari pola pikir yang berpusat pada kepentingan pribadi, ego, keserakahan akan jabatan dan kekayaan materi. Semua itu tidak berarti apa-apa jika martabat, persatuan, dan kebebasan kita terancam,” ujarnya.
Pernyataan Hishammuddin ini muncul di tengah kontestasi politik yang memanas di Johor. Sejumlah kalangan menilai bahwa upaya mengaitkan pemilu dengan pengampunan kerajaan dapat menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat. Proses pengampunan, yang sepenuhnya berada di tangan Yang di-Pertuan Agong, seharusnya tidak dijadikan alat kampanye atau dikaitkan dengan hasil pemilu.
Ke depan, publik akan mengamati apakah pernyataan kontroversial Nazifuddin akan mempengaruhi dinamika politik di Johor atau justru menjadi bumerang bagi BN. Yang jelas, Hishammuddin telah menegaskan bahwa politik harus berlandaskan pada agenda nasional yang lebih besar, bukan pada kepentingan sesaat atau ambisi pribadi.



