Gustavo Puerta, Bintang Muda Kolombia yang Mengubah Lini Tengah di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Gelandang 22 tahun Gustavo Puerta tampil gemilang saat Kolombia mengalahkan Ghana 1-0 di babak 32 besar Piala Dunia, mencatat jarak tempuh tertinggi di antara semua pemain.
- Pelatih Nestor Lorenzo memilih Puerta sebagai starter menggantikan Richard Ríos yang lebih senior, menunjukkan kepercayaan pada pemain yang baru menembus tim utama.
- Puerta, yang pernah bermain di divisi dua Kolombia dan Spanyol, kini menjadi motor permainan Kolombia dengan fleksibilitas taktis dan etos kerja tanpa lelah.

Gelandang muda Kolombia, Gustavo Puerta, kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di Piala Dunia setelah penampilan heroiknya saat mengalahkan Ghana 1-0 di babak 32 besar, Kamis malam di Kansas City. Pemain berusia 22 tahun itu tidak hanya menjadi bintang lapangan, tetapi juga simbol semangat juang tim "Los Cafeteros" yang kini melaju ke babak 16 besar.
Puerta, yang sebelumnya jarang menjadi sorotan, tampil sebagai motor permainan dengan pergerakan tanpa lelah. Ia mencatat jarak tempuh tertinggi di antara semua pemain dalam laga tersebut, menekan lawan tanpa henti, mengatur ritme permainan, dan beberapa kali mengancam gawang Ghana. Keputusan pelatih Nestor Lorenzo untuk memilih Puerta sebagai starter menggantikan Richard Ríos, yang sebelumnya menjadi pilihan utama di lini tengah, terbukti tepat. Puerta menjawab kepercayaan itu dengan performa yang matang dan konsisten sepanjang turnamen.
Kemampuan Puerta untuk bermain di berbagai posisi menjadi kunci taktik Lorenzo. Ia bisa bergerak dari sisi kanan, kiri, hingga menjadi gelandang bertahan. "Pelatih ingin saya serba bisa. Saya ditempatkan di kanan, kiri, kadang sebagai gelandang jangkar. Saya merasa nyaman dan hanya ingin membantu tim," ujar Puerta setelah pertandingan. Fleksibilitas ini membuat lini tengah Kolombia sulit ditebak lawan dan menjadi salah satu kekuatan utama tim.
Perjalanan Puerta menuju panggung dunia tidaklah mulus. Ia memulai karier di Bogota FC, klub divisi dua Kolombia, sebelum pindah ke Bayer Leverkusen pada 2023. Namun, ia lebih sering dipinjamkan ke FC Nuremberg dan Hull City. Baru di Racing de Santander ia menemukan tempat reguler dan membantu klub promosi ke La Liga. Lorenzo mengakui telah memantau Puerta sejak lama. "Kami memberinya panggilan pertama saat ia masih di divisi dua. Saya melihatnya sebagai gelandang lengkap: cerdas, berkarakter, dan dewasa di usianya," kata Lorenzo.
Rekan setimnya, Richard Ríos, yang justru kehilangan tempat starter, memberikan pujian tulus. "Saya suka cara dia bermain. Dia tidak gentar dengan besarnya panggung. Apa yang terjadi padanya luar biasa, dan dia pantas mendapatkannya," ujar Ríos. Bek veteran Santiago Arias menambahkan bahwa Puerta adalah pemain yang bekerja keras dan pantas berada di tim nasional.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Puerta mengingatkan pada pentingnya pembinaan pemain muda dan keberanian pelatih memberikan kesempatan. Di tengah dominasi pemain senior, Puerta membuktikan bahwa bakat dan kerja keras bisa menembus batasan. Kolombia kini menjadi tim yang patut diperhitungkan, dan Puerta adalah salah satu alasan utamanya. Pertanyaan selanjutnya: mampukah ia mempertahankan performa ini hingga babak final?



