Singapura Buka Keran Tenaga Kerja Timor Leste Mulai 2027: Sektor Konstruksi Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan Singapura dapat merekrut pekerja asal Timor Leste mulai paruh kedua 2027 untuk sektor konstruksi, galangan kapal, dan manufaktur.
- Kebijakan ini merupakan perluasan daftar negara sumber tenaga kerja non-tradisional Singapura, setelah Bhutan, Kamboja, dan Laos pada 2025.
- Remitansi pekerja Timor Leste di luar negeri mencapai US$180 juta pada 2025, setara 10% PDB, menunjukkan pentingnya mobilitas tenaga kerja bagi ekonomi negara tersebut.

Singapura resmi memasukkan Timor Leste ke dalam daftar negara sumber tenaga kerja non-tradisional, membuka peluang bagi perusahaan di negara kota itu untuk mempekerjakan warga Timor Leste mulai pertengahan 2027. Keputusan ini diumumkan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam kunjungan dua harinya ke Dili, 3 Juli 2026, dan langsung berlaku untuk sektor konstruksi, galangan kapal, proses, serta beberapa pekerjaan terpilih di manufaktur dan jasa.
Langkah ini dinilai sebagai strategi Singapura untuk memperluas keragaman pasokan tenaga kerja di tengah keterbatasan demografis. Kementerian Luar Negeri Singapura dalam pernyataan resmi menyebut Timor Leste akan menjadi negara sumber yang disetujui efektif paruh kedua 2027. Sebelumnya, Singapura telah menambahkan Bhutan, Kamboja, dan Laos ke dalam daftar serupa pada 1 Juni 2025.
Juru bicara Kementerian Tenaga Kerja Singapura mengonfirmasi adanya minat awal dari perusahaan-perusahaan di sektor konstruksi untuk merekrut pekerja Timor Leste. Menurutnya, kebijakan ini memberikan akses ke kumpulan tenaga kerja yang lebih luas dan beragam untuk memenuhi kebutuhan bisnis. Namun, ia menekankan bahwa Singapura, sebagai negara kota kecil dan padat, tetap mengatur secara ketat profil pekerja asing dengan mempertimbangkan infrastruktur, keamanan, sosial, dan ekonomi.
Bagi Timor Leste, keputusan ini menjadi tonggak penting dalam hubungan bilateral. Perdana Menteri Xanana Gusmao menyebutnya sebagai tanda kepercayaan terhadap rakyat Timor Leste. Ia menambahkan bahwa pekerja yang pulang ke kampung halaman setelah bekerja di Singapura akan membawa keterampilan, pengalaman, dan karakter yang terbangun. Data menunjukkan bahwa pada 2025, remitansi dari pekerja Timor Leste di luar negeri menyumbang sekitar 10% dari produk domestik bruto negara, mencapai lebih dari US$180 juta.
Dalam konteks regional, langkah Singapura ini juga relevan bagi Indonesia. Sebagai sesama anggota ASEAN dan negara dengan jumlah pekerja migran yang besar, Indonesia dapat mempelajari model mobilitas tenaga kerja Timor Leste yang kini menjalin kerja sama dengan beberapa negara maju. Kebijakan Singapura yang selektif dan bertahap dalam membuka akses tenaga kerja asing juga menjadi catatan bagi pengelolaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, terutama di sektor konstruksi dan manufaktur yang kerap menjadi tujuan utama.
PM Wong menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar ekonomi. Dengan meningkatnya pertukaran dan interaksi, hubungan antarmasyarakat dan bisnis kedua negara akan semakin kuat. โKami ingin mendorong lebih banyak pertukaran semacam ini agar dapat memfasilitasi kerja sama lebih lanjut di masa depan,โ ujarnya. Ia juga menegaskan komitmen Singapura membantu Timor Leste berkembang, karena negara yang kuat akan memperkuat ASEAN secara keseluruhan.
Ke depan, implementasi kebijakan ini akan diawasi ketat, terutama terkait kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan Singapura dan dampaknya terhadap pasar tenaga kerja domestik. Pertanyaan yang muncul adalah seberapa besar penyerapan tenaga kerja Timor Leste akan terjadi, dan apakah model ini dapat direplikasi oleh negara-negara ASEAN lain untuk meningkatkan mobilitas tenaga kerja regional.



