Perundingan Selat Hormuz Iran-Oman Terus Berlanjut di Tengah Serangan AS, Apa Dampaknya bagi Harga Minyak Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Iran dan Oman masih melanjutkan dialog soal Selat Hormuz, meski gencatan senjata dengan AS telah runtuh dan militer kedua negara saling serang.
- Juru bicara Kemlu Iran mengakui ada tiga hambatan utama dalam perundingan, termasuk intervensi negara lain yang berusaha menggagalkan proses.
- Eskalasi di jalur pelayaran vital ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global, yang pada akhirnya bisa menekan APBN Indonesia melalui harga energi.

Iran dan Oman menegaskan komitmen untuk melanjutkan perundingan mengenai status Selat Hormuz, meskipun gencatan senjata dengan Amerika Serikat telah dinyatakan batal dan ketegangan militer di kawasan itu meningkat. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa kedua negara tetap serius mencari mekanisme yang mampu mengakomodasi kepentingan bersama, terutama terkait keamanan jalur pelayaran internasional.
Dalam konferensi pers pada Senin, Baghaei menyebutkan bahwa proses dialog berlangsung intensif dan kedua pihak saling bertukar pandangan secara langsung. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa perundingan tersebut dihadapkan pada tiga persoalan pelik: kompleksitas substansi yang dibahas, banyaknya pihak yang terlibat, serta upaya sejumlah negara untuk menggagalkan jalannya negosiasi. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli 2026 menyatakan gencatan senjata 18 Juni tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) telah melancarkan serangan terhadap Iran, dengan dalih merespons tindakan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah dan menuduh Washington melanggar kesepakatan. Saling serang ini menempatkan Selat Hormuzโyang dilalui sekitar 20% pasokan minyak duniaโpada risiko gangguan yang serius.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar berita geopolitik. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap gejolak di jalur tersebut berpotensi mendongkrak harga energi global, yang pada gilirannya membebani APBN melalui subsidi dan kompensasi BBM. Para analis memperkirakan jika konflik meluas, harga minyak bisa menembus level yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, memaksa pemerintah untuk menyesuaikan kembali asumsi makro dalam APBN.
Menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, eskalasi ini menunjukkan bahwa diplomasi regional tidak berjalan mulus di tengah tekanan eksternal. โIran dan Oman mungkin memiliki keinginan untuk meredakan ketegangan, tetapi keterlibatan pihak ketiga yang berkepentingan membuat prosesnya jauh lebih rumit,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa stabilitas Selat Hormuz seharusnya menjadi kepentingan bersama semua negara, termasuk Indonesia, karena dampaknya langsung terasa pada harga komoditas dan inflasi.
Diplomasi yang masih berjalan antara Teheran dan Muskat memberikan secercah harapan, namun tanpa dukungan dari kekuatan besar, kesepakatan apa pun akan sulit diimplementasikan. Pertanyaannya, mampukah kedua negara ini menahan diri dari provokasi militer dan tetap fokus pada solusi damai? Atau justru konflik akan semakin melebar, membawa kawasan menuju ketidakpastian yang lebih dalam? Bagi Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan seberapa besar tekanan ekonomi yang harus ditanggung dalam beberapa bulan ke depan.



