Alex Eala Cetak Sejarah Grand Slam untuk Filipina di Wimbledon, Tantang Iga Swiatek
Baca dalam 60 detik
- Alexandra Eala menjadi petenis Filipina pertama yang lolos ke putaran ketiga Grand Slam, mengalahkan Maya Joint di Wimbledon.
- Petenis 21 tahun ini membangkitkan gairah tenis di Filipina, negara yang selama ini didominasi tinju dan basket.
- Pada Sabtu, Eala akan berhadapan dengan juara bertahan Iga Swiatek, yang pernah ia kalahkan di Miami Open 2024.

Alexandra Eala menorehkan tinta emas bagi tenis Filipina dengan melaju ke putaran ketiga tunggal putri Wimbledon, capaian terjauh yang pernah diraih pemain dari negara tersebut di turnamen Grand Slam. Petenis berusia 21 tahun yang menjadi unggulan ke-29 ini akan menghadapi juara bertahan Iga Swiatek pada Sabtu, setelah sebelumnya menyingkirkan Maya Joint dari Australia di babak kedua.
Bagi Eala, pencapaian ini bukan sekadar angka di papan peringkat. โBisa mewakili Filipina di Wimbledon, di panggung terbesar dunia, sangat berarti bagi saya,โ ujarnya kepada wartawan usai pertandingan. โSaya dan tim bekerja sangat keras, dan hasilnya mulai terlihat. Kemenangan ini sangat berarti.โ
Di lapangan, Eala tampil dengan identitas budaya yang kental. Topi visor putih dari sponsor Nike yang ia kenakan bertuliskan frasa Tagalog yang berarti โsetelah tumbuh, tak bisa dihentikanโ. Ia juga menghiasi rambutnya dengan jepit berbentuk sampaguita, bunga khas Filipina. โAsal-usul saya adalah bagian besar dari diri saya dan masa depan yang ingin saya raih,โ katanya seperti dikutip Reuters.
Kiprah Eala di Wimbledon telah menyedot perhatian publik Filipina. Acara nonton bareng dan liputan media arus utama mengiringi setiap langkahnya, sesuatu yang langka di negara yang lebih akrab dengan tinju dan basket. Pada Januari lalu, Filipina untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah turnamen WTA, Philippine Open, menandai tumbuhnya minat terhadap tenis.
Eala menimba ilmu di akademi tenis Rafael Nadal di Spanyol, tempat idolanya itu berlatih. Kariernya melejit setelah mengalahkan mantan nomor satu dunia Swiatek di Miami Open tahun lalu. Kini, ia kembali berhadapan dengan pemain Polandia tersebut di panggung yang lebih besar. โIni akan menjadi pertandingan yang sulit. Saya akan berusaha membuatnya juga sulit baginya,โ ujar Eala. โSaya siap menghadapi tantangan besar.โ
Bagi Indonesia, prestasi Eala menjadi pengingat bahwa tenis di Asia Tenggara memiliki potensi besar. Meskipun Indonesia belum memiliki petenis sekaliber Eala di level Grand Slam, perkembangan tenis di kawasan ini patut dicermati. Keberhasilan Eala bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Indonesia untuk menembus panggung dunia, sekaligus mendorong federasi tenis nasional untuk lebih gencar menggelar turnamen internasional.
Pertandingan Eala melawan Swiatek pada Sabtu akan menjadi ujian sesungguhnya. Bisakah ia mengulangi kejutan di Miami? Ataukah Swiatek akan mempertahankan mahkotanya? Satu hal yang pasti, Eala telah membuktikan bahwa tenis Filipina layak diperhitungkan di kancah global.



