Dominasi Petinju Kelas Berat Inggris: Gelar Dunia Kini di Ujung Jari
Baca dalam 60 detik
- Tujuh petinju Inggris masuk peringkat 10 besar dunia di empat badan sanksi utama, menandai era baru setelah Oleksandr Usyk mengosongkan gelarnya.
- Daniel Dubois menjadi satu-satunya pemegang gelar dunia dari Inggris, sementara Moses Itauma diproyeksikan sebagai calon juara masa depan.
- Keberhasilan ini didorong oleh investasi pemerintah pada program amatir dan peran tokoh seperti Anthony Joshua serta Tyson Fury yang membuka jalan.

Kelas berat tinju dunia tengah mengalami pergeseran kekuatan yang signifikan. Setelah Oleksandr Usyk memutuskan untuk melepaskan sabuk gelar WBA, IBF, dan WBC, panggung kini terbuka lebar bagi para petinju asal Inggris. Tidak kurang dari tujuh nama dari Negeri Ratu Elizabeth masuk dalam jajaran 10 besar di empat badan sanksi utamaโWBA, WBC, WBO, dan IBF.
Daniel Dubois, yang memegang sabuk WBO, menjadi satu-satunya petinju Inggris yang saat ini menyandang gelar juara dunia. Di belakangnya, nama-nama seperti Fabio Wardley (peringkat 4 WBO), Moses Itauma, Tyson Fury (peringkat 1 WBC), Anthony Joshua, dan Richard Riakporhe turut menghiasi daftar. Bahkan Lawrence Okolie masih bertahan di peringkat 2 WBC meski sempat tersandung kasus doping.
Fenomena ini bukanlah kebetulan. Frank Warren, promotor yang menaungi lima dari tujuh petinju Inggris tersebut, mengakui bahwa ini adalah hasil dari strategi jangka panjang. โSejak 2016, kami sudah menargetkan untuk membangun kandang petinju kelas berat yang kuat,โ ujarnya kepada BBC Sport. Warren merekrut Tyson Fury saat sang petinju tengah kelebihan berat badan dan diragukan mampu bangkit, lalu membangun tim di sekelilingnya.
Namun, fondasi utama kesuksesan ini adalah program amatir yang solid. GB Boxing, pusat pelatihan di Sheffield, telah melahirkan petinju-petinju kelas dunia. Anthony Joshua, yang memulai dari nol, berhasil meraih medali emas Olimpiade di sana. Joe Joyce (perak Rio 2016) dan Frazer Clarke (perunggu Tokyo 2020) juga mengikuti jejak yang sama. Robert McCracken, direktur performa GB Boxing, menekankan pentingnya mempertahankan atlet dalam program dan memberikan pengalaman bertarung di berbagai benua. โSaat mereka beralih ke profesional, mereka sudah jauh lebih siap,โ katanya.
Dominasi Inggris ini kontras dengan kemunduran Amerika Serikat. Deontay Wilder adalah petinju AS terakhir yang memegang gelar dunia, sebelum dikalahkan Tyson Fury pada 2020. Kini, petinju AS dengan peringkat tertinggi adalah Jarrell Miller (peringkat 2 WBA), yang namanya tercoreng karena pelanggaran doping. Frank Warren berpendapat bahwa atlet-atlet besar di AS lebih memilih basket atau sepak bola Amerika, sementara di Inggris, tinju menjadi primadona karena minimnya kompetisi dari olahraga lain.
Di sisi lain, Eddie Hearn dari Matchroom Boxing memberikan pujian khusus kepada Anthony Joshua. Menurutnya, Joshua adalah pionir yang membuka jalan bagi petinju Inggris lainnya. โDia menunjukkan apa yang mungkin dicapai. Tanpa dia, mungkin tidak akan ada petinju Inggris yang berani bermimpi main di stadion besar,โ ujar Hearn. Meski begitu, baik Joshua (36) maupun Fury (37) sudah berada di ujung karier. Rencana pertarungan mereka pada November masih harus melewati laga pemanasanโFury menghadapi Mariusz Wach di Thailand, sementara Joshua bertemu Kristian Prenga di Arab Saudi.
Masa depan kelas berat Inggris kini ada di pundak Moses Itauma (21 tahun) yang tak terkalahkan dalam 14 pertarungan, dan Daniel Dubois (28) yang masih memegang satu sabuk. Dengan regenerasi yang berjalan mulus, Inggris tampaknya akan terus mendominasi panggung tinju dunia dalam beberapa tahun ke depan. Pertanyaannya, akankah Amerika Serikat atau kekuatan lain mampu bangkit untuk mengimbangi?



