IHSG Melompat 2% Lebih di Awal Perdagangan, Data AS Picu Optimisme
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan lonjakan signifikan hingga 2,03% pada Jumat (3/7/2026), didorong oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang mendingin.
- Pelemahan indeks dolar AS ke level terendah sejak Juni 2026 meningkatkan ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga, memberikan angin segar bagi rupiah dan pasar keuangan Indonesia.
- Pergerakan bursa Asia bervariasi dengan rotasi keluar dari saham teknologi, sementara Dow Jones mencatat rekor penutupan baru setelah data ketenagakerjaan AS yang lemah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat (3/7/2026) dengan lonjakan tajam, menembus level 5.862 atau naik 2,03% hanya dalam beberapa menit setelah bel pembukaan. Pergerakan ini melanjutkan tren positif yang terbentuk pada sesi sebelumnya, didorong oleh sentimen global yang mendukung aset berisiko.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat menguat 1,07% ke posisi 5.806,17, namun akselerasi cepat terjadi seiring masuknya aliran dana investor. Nilai transaksi awal mencapai Rp124,80 miliar dengan volume 169,34 juta saham dalam 17 ribu kali transaksi. Sebanyak 236 saham menghijau, 70 saham memerah, dan 270 saham stagnan. Emiten dengan transaksi terbesar meliputi BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, dan ANTM, menandakan dominasi saham perbankan dan tambang.
Katalis utama penguatan IHSG berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis Kamis malam. Laporan menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin, mengurangi tekanan bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang sambil memantau inflasi. Imbasnya, indeks dolar AS terperosok ke level 100,856โtitik terendah sejak 19 Juni 2026. Pelemahan dolar ini direspons positif oleh investor di Indonesia karena berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah dan menarik aliran modal asing.
Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan bursa cenderung bervariasi. Nikkei 225 Jepang melemah 0,86%, sementara Topix menguat 0,34%. Kospi Korea Selatan naik 0,97%, namun Kosdaq terkoreksi 1,12%. S&P/ASX 200 Australia menguat 0,42%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong sedikit lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya. Variasi ini terjadi di tengah rotasi investor keluar dari saham teknologi, mengikuti pelemahan sektor semikonduktor di Wall Street. Nasdaq justru terkoreksi 0,8%, kontras dengan Dow Jones yang mencetak rekor penutupan baru di 52.900,07.
Bagi investor Indonesia, kombinasi data AS yang mendingin dan pelemahan dolar memberikan harapan stabilitas nilai tukar dan potensi penurunan suku bunga global. Namun, rotasi sektoral di bursa global perlu dicermati karena dapat mempengaruhi aliran dana ke saham-saham teknologi dalam negeri. Pasar masih menunggu data inflasi AS berikutnya untuk konfirmasi arah kebijakan The Fed. Akankah IHSG mampu mempertahankan momentum penguatan hingga akhir pekan? Semua tergantung pada konsistensi sentimen global dan aksi investor domestik.



