Rupiah Terperosok ke Rp 18.000, Ancaman Defisit Neraca Perdagangan Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di dunia pada semester I-2026, terdepresiasi 7,23% secara point-to-point.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke 5,75% dan memperketat aturan valuta asing untuk menahan tekanan, namun defisit neraca perdagangan Mei 2026 mengkhawatirkan.
- Ekonom memperkirakan tekanan berlanjut di semester II karena ekspor terhambat kebijakan global dan domestik, serta impor yang tetap tinggi mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level psikologis Rp 18.000 pada awal Juni 2026, menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk di dunia sepanjang paruh pertama tahun ini. Tekanan berlanjut hingga akhir Juni, dengan rupiah bertengger di kisaran Rp 17.800โRp 18.171 per dolar AS, memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah mencapai Rp 18.039 per dolar AS pada 4 Juni 2026, lalu menyentuh titik terendah Rp 18.171 pada 8 Juni sebelum sedikit membaik. Sepanjang semester I, depresiasi rupiah tercatat 7,23% secara point-to-point, menempatkannya di peringkat kedelapan mata uang terlemah global. Posisi ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan won Korea yang melemah 7,26% dan rupee Sri Lanka yang turun 8,56%.
Bank Indonesia (BI) merespons dengan menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke 5,75% pada Juni 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan langkah ini sebagai upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Selain itu, BI meningkatkan intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta menjaga struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik investor asing.
Kebijakan lain termasuk penurunan threshold pembelian valuta asing tunai tanpa underlying menjadi US$ 10.000 per pelaku per bulan, dan pengetatan pelaporan lalu lintas devisa dengan menurunkan batas kewajiban dokumen pendukung transfer dana ke luar negeri dari US$ 50.000 menjadi US$ 25.000. Aturan ini mulai berlaku 1 Juli 2026.
Meskipun BI gencar melakukan intervensi, ancaman terhadap rupiah belum mereda. Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri 72 bulan surplus berturut-turut. Ekonom Bank Central Asia (BCA) Jennifer Calysta Farrell dan Victor George memperkirakan ekspor masih akan terhambat oleh kebijakan The Fed yang hawkish, program wajib biodiesel B50 yang mengurangi alokasi CPO ekspor, serta ketidakpastian pembatasan produksi komoditas seperti batu bara dan nikel. Mereka memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga tambahan 50 bps tahun ini.
Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar PermataBank, Faisal Rachman, mengingatkan bahwa lesunya ekspor berbarengan dengan tingginya imporโterutama bahan baku dan barang modalโakan memperlebar defisit transaksi berjalan (CAD). "Pelebaran CAD tanpa adanya capital inflow akan mengurangi cadangan devisa. Alhasil rupiah melemah, dan harga barang impor jadi lebih mahal," ujarnya. Impor bahan baku tumbuh 25,17% dan mendominasi 71,32% total impor, sementara barang modal naik 12,70%.
Di sisi lain, tingginya impor bahan baku dan barang modal mencerminkan percepatan pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah mencapai 6% pada 2026. Namun, tekanan eksternal dan domestik membuat prospek rupiah di semester II masih suram. Pertanyaannya, akankah kebijakan moneter yang agresif cukup untuk menahan laju pelemahan, atau justru akan mengorbankan pertumbuhan?



