Valuasi IHSG Terjun Bebas, Asing Borong Saham Tambang dan Energi
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net sell Rp2,73 triliun, namun tetap mengakumulasi saham komoditas seperti ANTM dan DSSA.
- PER IHSG merosot ke 12,25 kali dari 17,23 kali pada Januari 2026, menandakan valuasi murah.
- Aktivitas perdagangan melambat drastis, dengan rata-rata transaksi harian turun 35,9%.

Di tengah aksi jual bersih asing yang masih berlangsung, investor global justru mulai memborong saham-saham komoditas dan energi di Bursa Efek Indonesia. Sepanjang pekan 29 Juni hingga 3 Juli 2026, net sell asing tercatat Rp2,73 triliun di pasar reguler, namun sejumlah emiten tambang dan energi mencatatkan akumulasi beli yang signifikan.
Kondisi ini terjadi saat valuasi pasar saham Indonesia berada di titik terendah dalam enam bulan terakhir. Price to Earnings Ratio (PER) IHSG turun menjadi 12,25 kali pada akhir pekan, jauh di bawah level 17,23 kali pada pertengahan Januari 2026 ketika indeks sempat menembus 9.000. Price to Book Value (PBV) juga terkoreksi dari 2,58 kali menjadi 1,56 kali, mengindikasikan bahwa harga saham domestik kini lebih murah dibanding awal tahun.
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi primadona asing dengan net buy Rp131,5 miliar. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp115,5 miliar dan PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) senilai Rp104,4 miliar. Saham lain yang diburu antara lain PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) Rp74,8 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Rp65,3 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp64 miliar.
Menurut analis pasar modal, pergerakan ini menunjukkan bahwa investor asing mulai melakukan strategi value hunting di sektor yang dianggap memiliki prospek jangka panjang, terutama komoditas yang terkait dengan transisi energi dan mineral kritis. "Mereka memanfaatkan koreksi harga untuk masuk ke saham-saham dengan fundamental kuat," ujar seorang pengamat pasar.
Di sisi lain, IHSG sendiri masih tertekan. Secara mingguan, indeks terkoreksi 0,35% ke level 5.875,78, meskipun sempat menguat pada tiga dari lima hari perdagangan. Aktivitas transaksi melambat tajam: rata-rata nilai transaksi harian turun 35,9% menjadi Rp11,27 triliun, sementara volume harian turun 30,35% menjadi 17,54 miliar saham. Menariknya, meski pasar sepi, porsi transaksi asing justru membesar dari 31% menjadi 41%, dengan total nilai transaksi asing mencapai Rp46,62 triliun berbanding Rp66,07 triliun dari investor domestik.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal bahwa tekanan jual asing belum sepenuhnya reda, namun mulai ada pergeseran ke sektor-sektor yang dianggap undervalued. Pertanyaan selanjutnya: apakah aksi beli asing ini cukup kuat untuk mendorong IHSG bangkit dari level terendahnya, atau justru menjadi jebakan value trap?



