Kisah Sarah Schwartz: Ketika Media Murdoch Menjadi Alat Pembungkaman Kritikus Israel
Baca dalam 60 detik
- Pengacara Yahudi Australia, Sarah Schwartz, menjadi sasaran kampanye negatif media Murdoch setelah mengkritik kebijakan Israel di Gaza.
- Media Murdoch konsisten membela Israel dan menyerang siapa pun yang menentangnya, termasuk dengan tuduhan antisemitisme yang kontradiktif.
- Kasus Schwartz mengungkap pola jurnalisme yang gagal: mengabaikan konteks, memicu perundungan daring, dan membungkam suara kritis di internal komunitas Yahudi.

Seorang pengacara muda Yahudi Australia, Sarah Schwartz, harus menanggung konsekuensi pahit setelah berani menyuarakan kritik terhadap tindakan Israel di Gaza. Alih-alih mendapat ruang diskusi yang sehat, ia justru dihantam gelombang serangan dari media milik Rupert Murdoch, yang dengan konsisten membela Israel dan menstigma setiap suara kritis sebagai antisemit.
Schwartz mendirikan Jewish Council of Australia bersama sejumlah akademisi, pengacara, dan guru Yahudi yang menolak keras operasi militer Israel di Gaza. Mereka menilai respons Israel tidak proporsional dan kontraproduktif bagi perdamaian kawasan. Namun, bagi News Corporation—induk media Murdoch—kehadiran kelompok ini menjadi ancaman langsung terhadap narasi yang selama puluhan tahun mereka bangun: bahwa Israel tidak pernah salah dan kritik terhadapnya adalah bentuk kebencian terhadap Yahudi.
Puncaknya terjadi pada Januari 2025, ketika Schwartz tampil dalam sebuah acara komedi akademik bertajuk "The Greatest Race Debate". Ia menampilkan slide bergambar tokoh superhero bertuliskan "DJ"—kependekan dari "Dutton's Jew". Tujuannya menyindir cara mantan pemimpin oposisi Australia, Peter Dutton, menggunakan stereotip Yahudi sebagai tameng untuk menyebarkan sentimen anti-imigran dan Islamofobia. Sayangnya, sindiran itu disalahartikan. Media Murdoch, The Australian dan The Courier Mail, langsung memberitakannya secara tendensius, menghilangkan konteks bahwa itu adalah kritik politik, bukan pernyataan kebencian terhadap Yahudi.
Ironisnya, ketika Schwartz melaporkan perundungan yang dialaminya ke polisi, The Australian tiba-tiba mengubah haluan. Sebelumnya mereka menggambarkan Schwartz sebagai ancaman bagi komunitas Yahudi, namun begitu ia menjadi korban antisemitisme dari sesama aktivis pro-Israel, media itu menudingnya munafik dan ingin menekan kebebasan berbicara. Pola "kami selalu benar" ini, menurut Schwartz, adalah strategi untuk mendiskreditkan individu tanpa peduli pada konsistensi.
Dampaknya tidak hanya pada reputasi Schwartz di mata publik, tetapi juga dalam kehidupan pribadinya. Ia dianggap sebagai "Yahudi pinggiran yang radikal" oleh sebagian komunitasnya sendiri, sehingga enggan menghadiri acara keagamaan. "Mereka telah menciptakan persona palsu yang tidak akan pernah bisa saya hilangkan," ujarnya.
Kasus Schwartz hanyalah satu contoh dari pola yang lebih besar. Media Murdoch, menurut analisis para pengamat, secara sistematis menempatkan Islam sebagai ancaman bagi peradaban Barat dan mengabaikan penderitaan Palestina. Pada peringatan setahun perang Gaza, The Weekend Australian meluangkan 13 halaman namun tidak satu pun menyebut 100.000 warga Palestina terluka atau dua juta pengungsi. Paul Barry dari ABC Media Watch menyebut liputan itu "sangat memalukan dan aib jurnalistik".
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya independensi media dan bahaya polarisasi yang dipicu oleh kepentingan politik tertentu. Di tengah menguatnya sentimen pro-Palestina di tanah air, praktik jurnalisme yang berat sebelah seperti yang dilakukan Murdoch bisa menjadi preseden buruk jika tidak diimbangi dengan etika dan verifikasi. Pertanyaan besarnya: mampukah media di Indonesia menjaga jarak dari tekanan kepentingan asing dan tetap menyajikan berita yang berimbang?



