Indonesia Ubah Strategi Kerja Sama Pertahanan dengan Kamboja: Prioritas Pelatihan, Bukan Pasokan Senjata Baru
Baca dalam 60 detik
- Jakarta menggeser fokus kerja sama pertahanan dengan Kamboja dari pengadaan alat utama sistem persenjataan ke pengembangan kapasitas personel militer dan kepolisian.
- Langkah ini diambil untuk memastikan efektivitas operasional alutsista buatan PT Pindad yang telah diserahkan sebelumnya, seiring dengan penguatan hubungan bilateral yang telah berlangsung lebih dari enam dekade.
- Selain bidang pertahanan, Indonesia juga mendorong peningkatan investasi, perdagangan yang telah menembus US$1 miliar, serta konektivitas penerbangan langsung untuk memperdalam kerja sama ekonomi dan pariwisata.

Indonesia mengalihkan prioritas kerja sama pertahanannya dengan Kamboja pada tahun ini dari pengiriman alat utama sistem persenjataan (alutsista) tambahan menjadi program pelatihan bagi personel militer dan kepolisian. Langkah ini diambil Jakarta untuk memastikan bahwa peralatan militer yang telah diserahkan sebelumnya dapat dioperasikan secara optimal oleh pasukan Kamboja.
Penjabat Kuasa Usaha Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh, Krishnajie Partadiredja, dalam wawancara pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu, menegaskan bahwa kerja sama pertahanan tetap menjadi salah satu pilar utama hubungan kedua negara ASEAN. "Kerja sama pertahanan dan militer merupakan salah satu tulang punggung hubungan Indonesia dan Kamboja," ujarnya. Tahun ini, fokusnya adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia, termasuk pelatihan bagi personel militer dan polisi.
Keputusan ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai arah kerja sama bilateral ke depan, terutama apakah Indonesia akan memasok senjata yang lebih canggih. Sebelumnya, Jakarta telah memberikan bantuan berupa senjata ringan dan amunisi yang diproduksi oleh PT Pindad, perusahaan pertahanan milik negara. Namun, menurut Partadiredja, senjata yang dikirim dua tahun lalu membutuhkan pelatihan tambahan agar efektif digunakan. "Tahun ini, kami masih lebih fokus pada pengembangan kapasitas karena senjata yang diberikan dua tahun lalu memerlukan pelatihan tambahan," jelasnya.
Pergeseran strategi ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga mencerminkan tren yang lebih luas di kawasan. Banyak negara ASEAN kini menyadari bahwa transfer teknologi dan pelatihan sering kali lebih bernilai daripada sekadar pengadaan alutsista, terutama dalam membangun kemandirian pertahanan jangka panjang. Bagi Indonesia, pendekatan ini juga sejalan dengan upaya memperkuat peran sebagai mitra pembangunan kapasitas di kawasan, sekaligus membuka peluang bagi industri pertahanan dalam negeri untuk memperluas pasar melalui skema kerja sama yang lebih berkelanjutan.
Di luar sektor pertahanan, hubungan ekonomi kedua negara juga menunjukkan dinamika positif. Partadiredja mengungkapkan bahwa nilai perdagangan bilateral telah menembus angka US$1 miliar dan terus tumbuh. Data semester pertama tahun ini pun mencatatkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produk-produk Indonesia semakin diterima konsumen Kamboja, memberikan keyakinan bagi Jakarta terhadap prospek perdagangan ke depan. Meski demikian, angka pasti untuk Januari–Juni belum dapat dirilis karena masih perlu verifikasi.
Untuk memperkuat hubungan ekonomi, Kedutaan Besar RI di Phnom Penh akan menggelar acara "Sousdey Indonesia" pada 19–20 September mendatang. Acara ini bertujuan memperkenalkan produk Indonesia kepada konsumen Kamboja serta menjembatani pelaku bisnis kedua negara. Selain itu, investasi langsung juga menjadi perhatian. Kehadiran Indofood, produsen makanan asal Indonesia, yang telah membangun pabrik di Provinsi Kampong Speu, menjadi contoh nyata minat perusahaan Indonesia untuk tidak hanya mengekspor, tetapi juga memproduksi di Kamboja.
Sektor pariwisata juga menjadi agenda penting. Kedutaan berencana mengadakan familiarization trip pada Oktober untuk jurnalis Kamboja guna mempromosikan destinasi wisata Indonesia. Di sisi lain, Jakarta terus mendorong penambahan rute penerbangan langsung, seperti Phnom Penh–Jakarta, Phnom Penh–Bali, dan Siem Reap–Bali. Partadiredja berharap peningkatan konektivitas udara ini dapat mendorong arus wisatawan dua arah, bukan hanya menguntungkan sektor pariwisata Indonesia.
Kombinasi antara pelatihan pertahanan, perluasan perdagangan dan investasi, kunjungan pejabat tingkat tinggi, serta upaya meningkatkan konektivitas pariwisata menunjukkan komitmen kedua negara untuk memperdalam hubungan yang telah terjalin lebih dari enam dekade. Namun, Partadiredja menegaskan bahwa fokus langsung Jakarta adalah memastikan personel Kamboja mampu memanfaatkan sumber daya yang ada secara efektif, bukan sekadar menambah pasokan alutsista baru.
Ke depan, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada komitmen kedua pihak dalam menjalankan program pelatihan secara berkelanjutan dan evaluasi berkala. Apakah pendekatan ini akan menjadi model baru kerja sama pertahanan Indonesia dengan negara ASEAN lainnya? Jawabannya mungkin akan terlihat dari dampak nyata yang dihasilkan di Kamboja dalam beberapa tahun mendatang.



