Dubes Iman Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di KBRI Kuala Lumpur, Tekankan Makna Kemerdekaan
Baca dalam 60 detik
- Upacara peringatan HUT ke-81 RI di KBRI Kuala Lumpur berlangsung khidmat dengan dihadiri ratusan diaspora Indonesia.
- Dubes RI untuk Malaysia, Mohammad Iman, mengajak WNI memaknai kemerdekaan sebagai ruang berkarya dan berpendapat.
- Penghargaan Satyalancana Karya Satya diberikan kepada dua pegawai KBRI atas dedikasi 20 tahun, menegaskan komitmen pelayanan.

Ratusan warga negara Indonesia yang menetap di Malaysia larut dalam kekhidmatan upacara peringatan ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di halaman Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Senin (17/8). Inspektur upacara, Duta Besar RI untuk Malaysia Raden Dato' Mohammad Iman Hascarya Kusumo, memimpin langsung jalannya prosesi yang menjadi momen refleksi bagi diaspora yang jauh dari tanah air.
Dalam amanatnya, Dubes Iman menegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar status politik, melainkan ruang bagi setiap warga untuk berkarya dan menyuarakan pendapat. "Merdeka berarti bebas untuk berinovasi, berpendapat, dan bekerja. Itu anugerah yang harus kita isi dengan prestasi," ujarnya di hadapan para peserta yang terdiri dari jajaran KBRI, pelajar, mahasiswa, serta tokoh masyarakat Indonesia.
Perhelatan tahun ini terasa spesial karena melibatkan 22 pelajar Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera. Mereka telah menjalani latihan intensif selama 50 hari di bawah bimbingan para guru dan atase KBRI. Aksi mereka yang sigap mengibarkan Merah Putih menjadi salah satu sorotan, menunjukkan generasi muda diaspora tetap terhubung dengan nilai-nilai kebangsaan.
Di sela upacara, Dubes Iman juga menyerahkan Satyalancana Karya Satya kepada dua pegawai negeri sipil yang telah mengabdi selama dua dekade: Koordinator Fungsi Politik Jopkie Kurniawan dan Atase Perdagangan Aziza Rahmaniar Salam. Penghargaan yang dianugerahkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50/TK/2026 ini menjadi simbol apresiasi negara atas dedikasi aparatur di luar negeri.
Momen kebersamaan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai wujud syukur, dilanjutkan ramah tamah. Bagi diaspora, perayaan ini bukan hanya seremonial, tetapi juga pengingat bahwa negara hadir di tengah mereka. KBRI berkomitmen memperkuat layanan perlindungan bagi sekitar dua juta WNI yang bekerja dan menempuh pendidikan di Malaysia, sebuah angka yang menjadikan negara itu salah satu kantong diaspora terbesar.
Perayaan HUT RI di luar negeri selalu membawa pesan diplomasi yang halus. Di tengah dinamika hubungan bilateral Indonesia-Malaysia yang kerap diuji isu tenaga kerja dan perbatasan, kehadiran Dubes yang aktif merawat semangat kebangsaan diaspora menjadi modal penting. Pertanyaannya, akankah momen ini diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih konkret bagi perlindungan WNI di sektor domestik Malaysia? Publik tentu menunggu langkah lanjutan dari komitmen yang disuarakan.



