Hujan Ekstrem Landa Korea Selatan: Longsor Tewaskan Satu Warga, Rekor Curah Hujan Terpecahkan
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan 124,5 mm dalam satu jam di Geoje memecahkan rekor sejak 1972, memicu longsor yang menewaskan satu orang.
- Fenomena El Niño yang kuat sejak Juni memperparah musim topan Asia Timur, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
- Dampak beruntun terasa hingga Jepang dan Filipina, menyoroti kerentanan infrastruktur regional terhadap cuaca ekstrem.

Hujan deras tanpa henti mengguyur Provinsi Gyeongsang, Korea Selatan, memicu tanah longsor yang merenggut satu nyawa dan melukai dua lainnya di kota Geoje, Senin pagi. Peristiwa ini menjadi alarm akan keganasan cuaca ekstrem yang tengah melanda Asia Timur, seiring dengan rekor curah hujan yang memecahkan pencatatan sejarah sejak puluhan tahun lalu.
Longsor tersebut menimbun lantai dasar sebuah apartemen, dan tim penyelamat berhasil mengevakuasi tiga orang dari reruntuhan. Namun, satu di antaranya dinyatakan meninggal dunia, sebagaimana dilaporkan media lokal. Kejadian ini bukan isolatif; hujan lebat yang dipicu oleh serangkaian badai juga memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah China, Jepang, dan Filipina dalam beberapa pekan terakhir.
Data dari badan meteorologi Korea Selatan mencatat, curah hujan di Geoje mencapai 124,5 milimeter hanya dalam satu jam—angka tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1972. Dalam rentang waktu Minggu hingga Senin, total curah hujan di kota tersebut menembus 400 milimeter. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan mobil-mobil terendam dan arus deras menerjang jalanan, menggambarkan situasi yang mencekam.
Pemerintah kota setempat langsung merespons dengan menutup sejumlah objek wisata, menghentikan operasional bus, dan menunda pengumpulan sampah rumah tangga akibat jalan yang rusak atau terendam. Sejak Minggu, otoritas telah mengimbau warga untuk tidak berkendara, menjauhi bantaran sungai, dan mengungsi ke tempat aman jika diperlukan. Imbauan ini menunjukkan tingkat kewaspadaan tinggi, mengingat potensi bahaya susulan masih mengancam.
Fenomena ini terjadi di tengah peringatan para peramal cuaca bahwa musim topan tahun ini akan lebih intens dari biasanya. Penyebab utamanya adalah El Niño kuat yang mulai terbentuk sejak Juni. El Niño diketahui mendorong kenaikan suhu global dan memperkuat intensitas topan, menjadikan kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara sebagai wilayah yang paling rentan terhadap dampaknya.
Dampak serupa juga melanda Jepang. Akhir pekan lalu, hujan dengan intensitas yang disebut "belum pernah terjadi sebelumnya" mengguyur Prefektur Chiba dekat Tokyo, menewaskan 10 orang dan membuat ribuan penumpang terlantar di Bandara Narita. Lebih dari 20.000 rumah tangga kehilangan aliran listrik. Tragisnya, korban jiwa terbaru adalah seorang pria berusia 30-an yang ditemukan tewas di rumahnya akibat keracunan karbon monoksida. Ia menggunakan generator listrik saat pemadaman, seperti dilaporkan NHK. Insiden ini menjadi pengingat bahwa bahaya tak hanya datang dari air, tetapi juga dari upaya darurat yang tidak aman.
Bagi Indonesia, rangkaian bencana ini menjadi cermin nyata akan ancaman cuaca ekstrem yang juga mengintai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali memperingatkan potensi hujan lebat dan angin kencang akibat fenomena serupa, meski pola iklim di Indonesia lebih dipengaruhi oleh Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño. Namun, intensitas topan yang meningkat di Pasifik Barat dapat memicu cuaca tidak menentu di wilayah barat Indonesia, terutama dalam bentuk hujan ekstrem atau kekeringan panjang. Infrastruktur perkotaan yang rentan, seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, menghadapi risiko serupa dengan Geoje jika sistem drainase dan mitigasi bencana tidak diperkuat.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah seberapa siap negara-negara Asia, termasuk Indonesia, dalam menghadapi musim topan yang semakin ganas akibat perubahan iklim. Apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur publik mampu beradaptasi dengan cepat? Atau justru kita akan terus menyaksikan tragedi serupa berulang? Jawabannya menentukan masa depan jutaan penduduk di kawasan yang rentan ini.



