John Dickinson: Pahlawan Revolusi AS yang Terlupakan karena Menolak Tanda Tangan Deklarasi Kemerdekaan
Baca dalam 60 detik
- John Dickinson, tokoh kunci Revolusi Amerika yang dijuluki 'Penman of the Revolution', justru dikenang karena menolak menandatangani Deklarasi Kemerdekaan pada 1776.
- Sejarawan Jane Calvert memimpin upaya merehabilitasi reputasi Dickinson, yang menurutnya didorong oleh keprihatinan terhadap perlindungan hukum bagi kelompok rentan seperti penganut Quaker.
- Reputasi Dickinson yang terdistorsi oleh budaya populer dan kritik sejarawan abad ke-19 masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi menjelang peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.

Di tengah gegap gempita peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, seorang figur pendiri bangsa justru nyaris terlupakan—bukan karena jasanya yang kecil, melainkan karena keputusannya untuk tidak membubuhkan tanda tangan pada dokumen paling bersejarah di negeri itu. John Dickinson, yang pernah disebut sebagai 'Penman of the Revolution', kini lebih dikenang sebagai 'orang yang tidak mau menandatangani Deklarasi Kemerdekaan'.
Selama seperempat abad, Jane Calvert, mantan profesor di University of Kentucky, berjuang sendirian mengembalikan nama baik Dickinson. Melalui John Dickinson Writings Project, ia berupaya menerbitkan karya-karya Dickinson yang dinilai sangat berpengaruh dalam membentuk kesadaran kolektif koloni Amerika. "Ini perjuangan yang tak pernah berhenti," ujarnya kepada Associated Press.
Dickinson, yang lahir di Maryland dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Delaware dan Pennsylvania, pernah menjadi figur paling dihormati di kalangan patriot. Surat-suratnya yang terkumpul dalam 'Letters from a Farmer in Pennsylvania' pada 1760-an menjadi bacaan wajib yang menggerakkan perlawanan terhadap pajak Inggris. Ia bahkan menulis lirik lagu patriotik pertama Amerika, 'The Liberty Song'. Namun, ketika Kongres Kontinental memilih kemerdekaan pada Juli 1776, Dickinson memilih abstain.
Penolakan Dickinson bukan karena ia menentang kemerdekaan, melainkan karena ia menginginkan transisi yang bertahap dan tanpa pertumpahan darah. "Amerika belum siap secara militer, tidak memiliki konstitusi, sekutu asing, atau industri dalam negeri. Yang lebih penting, tidak ada perlindungan hukum bagi kelompok rentan, terutama penganut Quaker di Pennsylvania," jelas Calvert. Keputusan ini justru menjadi noda yang terus melekat.
Dalam budaya populer, Dickinson kerap digambarkan sebagai sosok angkuh dan pro-Inggris. Di museum National Constitution Center, patungnya ditempatkan terpisah di sudut dengan pose termenung. Film dokumenter Ken Burns dan musikal 'Hamilton' karya Lin-Manuel Miranda nyaris tidak menyebutnya. Sementara dalam musikal '1776' dan serial HBO tentang John Adams, ia tampil sebagai pengecut yang menghalangi semangat revolusi. "Gambaran itu sangat kejam. Ia adalah figur karismatik yang disukai koleganya, bukan pemakai wig atau tongkat seperti yang ditambahkan dalam pertunjukan," protes Calvert.
Namun, catatan sejarah menunjukkan Dickinson tidak lantas menarik diri. Ia bertugas di milisi Pennsylvania dan Delaware, ikut merancang Articles of Confederation, dan mendukung Konstitusi AS sebagai delegasi Delaware. Ia bahkan menjadi presiden Delaware dan Pennsylvania. Thomas Donnelly, pakar utama Constitution Center, mengakui bahwa pemahamannya tentang Dickinson meluas berkat riset Calvert. Ia menduga patung Dickinson yang terisolasi justru dimaksudkan sebagai penghormatan atas sifat intelektualnya.
Pendapat berbeda datang dari Joseph Ellis, sejarawan pemenang Pulitzer. Ia memuji Dickinson sebagai suara perlawanan utama sebelum 1776, tetapi menyesalkan keputusannya yang tidak 'mengambil langkah terakhir'. Jack Rakove, juga peraih Pulitzer, menyebut pemikiran Dickinson pada 1776 sebagai 'keanehan kepribadian politiknya yang teliti' dan menempatkannya satu tingkat di bawah tokoh utama seperti Benjamin Rush dan John Jay. "Mungkin keraguan nuraninya pada 1776 telah memengaruhi reputasinya," kata Rakove.
Dickinson sendiri mengakui bahwa penentangannya terhadap Deklarasi merupakan 'pukulan telak' bagi popularitasnya. John Adams, rival politiknya, menyebutnya 'jenius picik yang ketenarannya terlalu dibesar-besarkan'. Pada 1840-an, sejarawan George Bancroft mengukuhkan stigma itu dengan menuduh Dickinson 'menumpulkan kebencian rakyat dan melumpuhkan dorongan keberanian yang jantan'.
Upaya rehabilitasi tidak hanya dilakukan Calvert. William Murchison, komentator konservatif, menulis biografi Dickinson pada 2013 yang mengutip riset Calvert. Bahkan serial 'South Park' pernah menampilkan Dickinson sebagai tokoh prinsipil yang menolak mendirikan negara berdasarkan perang. "Itulah satu-satunya representasi pop culture yang saya lihat yang menggambarkannya termotivasi oleh prinsip," kata Calvert.
Peringatan 250 tahun kemerdekaan AS menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan: apakah sejarah selalu adil dalam menilai tokohnya? Ataukah seperti Dickinson, ada banyak figur yang terkubur oleh narasi tunggal yang dibangun pemenang? Pertanyaan ini relevan tidak hanya bagi Amerika, tetapi juga bagi bangsa lain yang terus bergulat dengan warisan sejarahnya.



