Gunungan Sampah TPA Jatiwaringin Setara Gedung 7 Lantai, Gubernur Banten Wajibkan Alat Pemadam di Setiap TPA
Baca dalam 60 detik
- Tumpukan sampah di TPA Jatiwaringin, Tangerang, mencapai ketinggian setara bangunan tujuh lantai, memicu kebakaran yang sulit dipadamkan.
- Gubernur Banten Andra Soni mewajibkan setiap TPA di wilayahnya menyediakan alat pemadam kebakaran untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan gas metan.
- Pemadaman melibatkan helikopter water bombing BNPB dan armada dari berbagai daerah, dengan strategi suplai air statis menggunakan pompa submersible.

Gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, kini menjulang setara gedung tujuh lantai—sebuah kondisi darurat yang memicu kebakaran dan mendorong Gubernur Banten Andra Soni mengeluarkan instruksi wajib alat pemadam di seluruh TPA se-provinsi.
Dalam kunjungannya ke lokasi kebakaran pada Kamis (2/7), Andra Soni mengungkapkan bahwa tumpukan sampah yang sudah menggunung tersebut menyimpan gas metan yang mudah terbakar, diperparah oleh cuaca panas ekstrem. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara dalam 30 tahun terakhir mencapai rekor tertinggi dengan durasi musim panas terpanjang. Kombinasi suhu terik dan angin kencang membuat api cepat menyebar dan memperluas area kebakaran.
"Karena memang harus sering dibasahi. Asal tahu saja, TPA Jatiwaringin itu tingginya sampah sudah setara dengan gedung 7 lantai, jadi kita doakan ini tidak berlarut-larut," ujar Andra di Tangerang. Ia menegaskan bahwa kewajiban penyediaan alat pemadam di setiap TPA bertujuan memudahkan petugas membasahi gunungan sampah secara rutin, mengurangi risiko kebakaran akibat akumulasi gas metan.
Penanganan kebakaran di TPA Jatiwaringin telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut di bawah koordinasi Bupati setempat. Bantuan armada pemadam dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa helikopter water bombing serta kendaraan pemadam dari berbagai kabupaten dan kota sekitar telah dikerahkan, termasuk dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Banten. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, menyatakan bahwa pihaknya menerjunkan tiga unit armada dengan 20 personel, meliputi mobil pemadam, mobil tangki air, dan pompa submersible untuk mendukung pasokan air.
"Setelah menerima permohonan bantuan, kami langsung melakukan mapping di lokasi. Mulai hari ini personel dan armada kami diberangkatkan untuk membantu proses pemadaman sesuai kebutuhan di lapangan," kata Mahdiar. Strategi yang diterapkan adalah membangun pola suplai air secara statis menggunakan pompa submersible sehingga beberapa unit pemadam dapat terisi bersamaan. Tim juga memetakan sumber air terdekat untuk memastikan distribusi air tidak terputus.
Hingga Kamis sore, api masih terlihat berkobar di beberapa titik, dan angin berhembus ke arah utara membawa asap pekat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi warga sekitar serta potensi kebakaran meluas ke area pemukiman. Kebakaran TPA bukan kali pertama terjadi di Indonesia; pada 2023, TPA Sarimukti di Bandung juga mengalami kebakaran serupa akibat cuaca panas dan gas metan. Peristiwa ini menggarisbawahi urgensi pengelolaan sampah yang lebih baik dan mitigasi bencana di TPA.
Ke depan, penerapan kewajiban alat pemadam di setiap TPA di Banten diharapkan menjadi langkah awal untuk mencegah insiden serupa. Namun, tanpa pengurangan volume sampah dan pengelolaan gas metan secara sistematis, risiko kebakaran tetap mengintai. Akankah kebijakan ini cukup untuk mengatasi darurat sampah yang kian menggunung?



