IHSG Menguat, Asing Justru Jual Bersih: 10 Saham Ini Diburu di Tengah Sepinya Transaksi
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 0,87% ke 5.744,56 pada Kamis (2/7/2026), namun nilai transaksi hanya Rp11,14 triliun, menandakan aktivitas pasar yang rendah.
- Investor asing mencatatkan jual bersih Rp237,87 miliar di seluruh pasar, tetapi tetap mengakumulasi sejumlah saham tertentu, terutama di sektor perbankan dan komoditas.
- Fenomena ini mencerminkan strategi selektif asing di tengah volatilitas, dengan implikasi bagi investor ritel Indonesia untuk mencermati saham-saham yang masih diburu.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan Kamis (2/7/2026), ditutup naik 0,87% atau 49,44 poin ke level 5.744,56. Namun, di balik kenaikan tersebut, aktivitas bursa tergolong sepi dengan nilai transaksi hanya Rp11,14 triliunโjauh dari rata-rata harian tahun ini yang mencapai Rp15 triliun. Yang menarik, investor asing justru mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp237,87 miliar di seluruh pasar, termasuk Rp322,69 miliar di pasar reguler. Meski demikian, mereka tetap mengoleksi sejumlah saham tertentu, menandakan strategi akumulasi yang sangat selektif.
Sepinya transaksi menjadi sorotan utama. Dari total 783 saham yang diperdagangkan, sebanyak 395 saham menguat, 219 melemah, dan 169 stagnan. Frekuensi perdagangan tercatat 1,51 juta kali, dengan volume saham yang berpindah tangan mencapai 20,50 miliar lembar. Angka ini mengindikasikan bahwa meskipun IHSG hijau, minat pasar belum pulih sepenuhnya, mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global atau menunggu katalis domestik yang lebih kuat.
Data dari Stockbit menunjukkan bahwa di tengah aksi jual bersih, asing tetap membeli saham-saham tertentu. Sepuluh saham dengan net foreign buy terbesar meliputi sektor perbankan (seperti BBCA dan BBRI), komoditas (ADRO, INCO), serta konsumen (UNVR). Langkah ini mengindikasikan bahwa investor asing masih percaya pada fundamental emiten tertentu, terutama yang memiliki prospek dividen atau eksposur terhadap pemulihan ekonomi domestik. Sementara itu, saham-saham yang dijual asing antara lain dari sektor teknologi dan properti yang sedang tertekan.
Bagi investor ritel Indonesia, pola ini memberikan sinyal penting. Alih-alih mengikuti aksi jual asing secara membabi buta, mencermati saham yang justru dikoleksi dapat menjadi strategi yang lebih bijak. Saham-saham perbankan seperti BBCA dan BBRI misalnya, tetap menjadi pilihan utama asing karena likuiditas tinggi dan dividen yang menarik. Sementara itu, saham komoditas seperti ADRO dan INCO diuntungkan oleh harga batu bara dan nikel yang masih stabil di pasar global.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen eksternal, terutama kebijakan suku bunga The Fed dan data ekonomi AS. Jika tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi kembali menguji level support 5.600. Namun, akumulasi asing di saham-saham unggulan bisa menjadi indikasi bahwa mereka melihat valuasi saat ini sudah menarik. Pertanyaan besarnya: akankah aksi beli asing ini cukup kuat untuk mendorong IHSG menembus level 5.800 dalam waktu dekat?



