Mantan Atlet Olimpiade AS Terancam 10 Tahun Penjara karena Tuduhan Merusak Kolam Refleksi Lincoln Memorial
Baca dalam 60 detik
- David Hearn, mantan atlet kano Olimpiade AS, didakwa merusak lapisan cat Kolam Refleksi Lincoln Memorial yang baru direnovasi, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.
- Kasus ini memicu perdebatan tentang politisasi sistem peradilan AS, mengingat renovasi kolam tersebut merupakan proyek unggulan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menuai kritik karena kualitas pengerjaan.
- Hearn mengklaim tidak sengaja menyentuh cat yang terkelupas, sementara jaksa menuduhnya dengan sengaja merusak properti nasional; kasus serupa lainnya masih dalam penyelidikan.

Seorang mantan atlet Olimpiade Amerika Serikat, David Hearn (67), terancam hukuman penjara hingga 10 tahun setelah didakwa dengan sengaja merusak Kolam Refleksi Lincoln Memorial yang baru saja direnovasi di Washington, DC. Dakwaan yang diumumkan pada Kamis (2/7) ini langsung memicu kontroversi, dengan tim kuasa hukum Hearn menuding proses hukum telah dipolitisasi oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Hearn, yang tiga kali mewakili AS dalam cabang kano di Olimpiade, dituduh mencabut dan merobek lapisan sealant seluas sekitar dua kaki persegi dari dasar kolam pada 19 Juni lalu. Menurut keterangan Jaksa Wilayah Washington, Jeanine Pirro, aksi tersebut menyebabkan kerusakan senilai lebih dari US$1.000. โHari ini, dewan juri mengembalikan dakwaan kejahatan terhadap David Hearn atas tuduhan perusakan properti, yang diancam hukuman 10 tahun penjara,โ ujar Pirro dalam konferensi pers.
Renovasi Kolam Refleksi yang terletak di samping Lincoln Memorial merupakan salah satu proyek kebanggaan Trump untuk mempercantik ibu kota AS. Proyek yang menelan biaya setidaknya US$14 juta ini, bagaimanapun, telah dihantui masalah sejak awal: cat mulai terkelupas dan alga mengubah air kolam menjadi hijau keruh hanya beberapa saat setelah selesai dikerjakan. Trump sebelumnya menuding para pengacau sebagai penyebab kerusakan tersebut, meski tanpa bukti yang jelas.
Kuasa hukum Hearn, Norm Eisen dan Mary Dohrmann, dengan keras mengecam dakwaan tersebut. โTuduhan ini keterlaluan dan seharusnya mengkhawatirkan setiap warga Amerika,โ kata mereka dalam pernyataan tertulis. Mereka menambahkan bahwa menjelang Hari Kemerdekaan AS, publik harus prihatin dengan penyalahgunaan kekuasaan pemerintah terhadap warga biasa berdasarkan narasi yang dibuat-buat.
Hearn sendiri membantah tuduhan itu. Kepada Washington Post, ia mengaku mendatangi kolam yang baru direnovasi setelah bersepeda jarak jauh dan melihat ada potongan lapisan cat biru yang terkelupas. Ia kemudian menjangkau air untuk meraba teksturnya, dan saat hendak pergi, petugas Taman Nasional langsung menangkapnya. โSaya tidak merusak apa pun. Saya tidak menghancurkan atau mengelupas apa pun. Saat saya sadar apa yang terjadi, saya sudah diborgol,โ ujarnya.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi seputar proyek renovasi yang didorong Trump. Pirro menegaskan akan menindak tegas siapa pun yang merusak monumen nasional, dan mengaku tengah meninjau sekitar setengah lusin kasus serupa lainnya yang kemungkinan akan dikenai pelanggaran ringan. Namun, sikap keras ini justru memperdalam kekhawatiran tentang netralitas Departemen Kehakiman AS di bawah Trump, yang sebelumnya telah mengancam hukuman penjara bagi siapa pun yang merusak proyek renovasi andalannya.
Bagi pengamat politik, kasus Hearn menjadi simbol betapa proyek infrastruktur publik bisa berubah menjadi medan pertarungan politik. Pertanyaan besarnya, apakah dakwaan ini murni penegakan hukum atau bagian dari upaya mengkriminalisasi kritik terhadap kebijakan pemerintah? Dengan semakin dekatnya peringatan 250 tahun kemerdekaan AS, tekanan untuk menjaga citra ibu kota semakin besar, dan kasus ini bisa menjadi ujian bagi independensi peradilan Amerika.



