Beatifikasi Pertama di Vietnam: 70.000 Umat Padati Misa di Ca Mau
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 70.000 umat Katolik menghadiri misa beatifikasi Pastor Truong Buu Diep di Ca Mau, yang pertama kali digelar di Vietnam.
- Kehadiran utusan Paus menandai makin eratnya hubungan Vatikan dengan Vietnam, yang belum memiliki hubungan diplomatik resmi sejak 1975.
- Peristiwa ini menjadi simbol kebebasan beragama yang terbatas di Vietnam, di mana pemerintah masih mengawasi ketat aktivitas keagamaan.

Sejarah baru tercatat di Vietnam ketika puluhan ribu umat Katolik memadati sebuah paroki kecil di Delta Mekong untuk menghadiri upacara beatifikasi pertama yang digelar di dalam negeri. Kardinal Luis Antonio Tagle, utusan Paus Leo XIV, memimpin misa khusus di Gereja Ca Mau untuk menghormati Pastor Francis Xavier Truong Buu Diep, seorang imam yang gugur saat melindungi umatnya pada 1946.
Prosesi yang berlangsung pada Kamis (3/7) itu menandai langkah kedua menuju kanonisasi Diep sebagai orang kudus. Gereja Katolik Vietnam memperkirakan sekitar 70.000 orang hadir, dengan banyak di antaranya datang berhari-hari sebelumnya dan menginap di luar gereja demi menyaksikan misa melalui layar raksasa. "Kami tidur di tikar di luar gereja semalam. Sungguh suatu kehormatan bisa berada di sini pada momen istimewa ini. Kami tidak boleh melewatkannya," ujar Tran Le Tap, seorang pedagang berusia 65 tahun yang datang dari Provinsi An Giang.
Kehadiran Kardinal Tagle sebagai utusan Vatikan menyoroti membaiknya hubungan antara Vietnam yang komunis dan Takhta Suci. Kedua pihak belum menjalin hubungan diplomatik resmi sejak berakhirnya perang saudara pada 1975. Namun, terobosan terjadi pada 2023 ketika mereka menyepakati penempatan "Perwakilan Tetap Kepausan" di Vietnam. Tagle menyebut upacara itu sebagai "momen sukacita besar bagi umat Katolik Vietnam" dan "hari yang benar-benar bersejarah dalam kehidupan Gereja".
Bagi umat seperti Le Mai, 33 tahun, yang datang dari Hanoi bersama ibunya, perjalanan seharian menggunakan pesawat dan mobil terbayar lunas. "Perjalanan jauh dari utara ke sini, tetapi ini adalah hak istimewa bisa menghadiri upacara ini," katanya. Semangat serupa juga terlihat dari ribuan umat lain yang rela menempuh jarak jauh demi menyaksikan momen yang dinantikan puluhan tahun.
Meskipun konstitusi Vietnam menjamin kebebasan beragama, pemerintah tetap menerapkan pengawasan ketat terhadap organisasi keagamaan. Kelompok hak asasi manusia kerap mengkritik pembatasan seperti kewajiban registrasi dan pengawasan. Beatifikasi di dalam negeri ini dipandang sebagai sinyal pelonggaran, meskipun masih ada jalan panjang menuju kebebasan beragama penuh. Pastor Diep sendiri, yang ditugaskan di Paroki Tac Say pada 1930, dikenal karena pengabdiannya kepada kaum miskin, sakit, dan korban perang. Ia tewas dibunuh oleh dua desertir Jepang pada 1946, sebagaimana diungkap penyelidikan keuskupan pada 2017.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Vatikan dan Vietnam akan segera menjalin hubungan diplomatik penuh, dan apakah langkah ini akan membuka ruang lebih luas bagi praktik keagamaan di negara komunis tersebut. Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat negara kita juga memiliki populasi Katolik yang signifikan dan hubungan yang terus berkembang dengan Vatikan.



