Bentrok di Tirana: Protes ‘Revolusi Flamingo’ Berdarah, 12 Polisi Terluka
Baca dalam 60 detik
- Demonstrasi menentang proyek resor mewah yang terkait dengan Jared Kushner berubah ricuh, polisi Albania menggunakan gas air mata dan merica.
- Aksi yang awalnya menyuarakan kekhawatiran lingkungan terhadap Laguna Narta kini melebar menjadi protes politik menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.
- Insiden ini mencerminkan ketegangan antara ambisi pariwisata kelas atas Albania dan perlindungan lingkungan, relevan bagi Indonesia yang menghadapi dilema serupa.

Bentrokan antara aparat kepolisian Albania dan ribuan demonstran pecah di depan gedung parlemen di Tirana, Kamis (3/7), setelah aksi unjuk rasa yang dipicu oleh rencana pembangunan resor mewah di kawasan Laguna Narta berubah menjadi kekerasan. Polisi melepaskan gas air mata dan semprotan merica untuk membubarkan massa yang melempari mereka dengan batu, telur, dan botol plastik.
Dalam insiden tersebut, 12 personel kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka, sementara 18 demonstran diamankan. Aksi yang disebut sebagai "revolusi flamingo" ini telah berlangsung lebih dari sebulan, dipicu oleh kekhawatiran bahwa proyek properti yang dikaitkan dengan menantu Presiden Amerika Serikat, Jared Kushner, akan mengancam habitat burung flamingo yang dilindungi di kawasan pesisir Adriatik.
Meski berawal dari isu lingkungan, demonstrasi ini dengan cepat menjelma menjadi gerakan politik yang lebih luas. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama, yang dinilai mengabaikan suara rakyat dan lebih berpihak pada kepentingan investor asing. "Rama harus masuk penjara," teriak massa sambil membawa poster dan potongan kardus berbentuk flamingo.
Pemerintah Albania membela proyek tersebut sebagai langkah transformatif bagi negara pasca-komunis yang tengah berupaya menarik wisatawan kelas atas dan mempercepat proses integrasi ke Uni Eropa. Namun, para aktivis lingkungan dan kelompok oposisi menilai pembangunan di kawasan laguna yang kaya keanekaragaman hayati itu akan merusak ekosistem dan mengancam spesies burung migran. Mereka juga menuding Rama melindungi kepentingan bisnis Kushner demi keuntungan politik.
Menteri Dalam Negeri Besfort Lamallari mengecam aksi vandalisme yang disebutnya sebagai "serangan terhadap negara." Dalam pernyataan resmi, ia menegaskan bahwa polisi adalah pelayan publik yang menjalankan tugas menjaga ketertiban. "Serangan terhadap mereka adalah serangan terhadap negara," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika protes di Albania ini memberikan gambaran tentang kompleksitas pembangunan pariwisata berkelanjutan. Di Tanah Air, konflik serupa kerap muncul antara proyek wisata megah dan pelestarian lingkungan, seperti di kawasan Mandalika atau Labuan Bajo. Pertarungan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan ekologis masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Ke depan, apakah pemerintah Albania mampu menengahi kepentingan investasi dan aspirasi warga? Ataukah gelombang protes ini akan semakin memperdalam krisis politik? Jawabannya masih bergantung pada respons Rama terhadap tuntutan demonstran yang terus membesar.



