Geger Katingan: Bandar Narkoba Diringkus, Satu Polisi Tewas dan Dua Hilang
Baca dalam 60 detik
- Aipda Yudhie Perdana Putra gugur saat penggerebekan sabu di Katingan, Kalimantan Tengah, akibat serangan massa menggunakan senjata tajam dan rakitan.
- Dua personel Satresnarkoba, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, masih dalam pencarian setelah terpaksa melarikan diri ke hutan dan sungai.
- Bareskrim Polri berjanji mengevaluasi prosedur operasi narkotika dan memberikan dukungan penuh untuk pengamanan serta pengungkapan jaringan pelaku penyerangan.

Seorang anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan tewas dalam penggerebekan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, Kalimantan Tengah, Rabu (1/7) malam. Peristiwa itu menewaskan Aipda Yudhie Perdana Putra dan menyebabkan dua rekannya hilang setelah diserang massa yang menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa operasi berawal dari laporan masyarakat tentang peredaran sabu. Sebanyak 12 personel diterjunkan untuk menangkap target berinisial BIO, seorang residivis narkotika. Tim dibagi dua: satu kelompok melakukan penangkapan di rumah target, sementara kelompok lain bersiaga sebagai pendukung.
Target berhasil diamankan, namun situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan. "Mereka menyerang menggunakan parang, senjata tajam, dan senjata api rakitan. Massa terus bertambah, situasi tidak terkendali," kata Eko dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7). Personel terpaksa menyelamatkan diri, berenang menyeberangi sungai, dan berlindung di hutan.
Eko menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Aipda Yudhie. "Kami berduka cita kepada keluarga almarhum yang gugur saat memberantas narkotika," ujarnya. Ia memastikan Bareskrim memberikan dukungan penuh kepada Polda Kalimantan Tengah dan Polres Katingan, termasuk dalam pencarian dua anggota yang hilang dan pengamanan wilayah.
Lebih lanjut, Eko menegaskan bahwa seluruh operasi pemberantasan narkotika akan dievaluasi. "Setiap penindakan harus dipersiapkan matang, mulai dari perencanaan, pemetaan ancaman, hingga kekuatan personel dan perlengkapan. Keselamatan anggota prioritas tanpa mengurangi ketegasan," katanya.
Insiden ini menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi aparat dalam pemberantasan narkoba di daerah terpencil. Pertanyaan yang muncul: apakah prosedur operasi standar sudah cukup antisipatif terhadap potensi perlawanan massa bersenjata? Evaluasi menyeluruh menjadi kunci agar tragedi serupa tidak terulang.



