Kemarahan Suporter Mengguncang Sepak Bola Korea: Tuduhan Nepotisme dan Reformasi Mendesak
Baca dalam 60 detik
- Suporter Korea Selatan menuntut reformasi total setelah tim nasional tersingkir di fase grup Piala Dunia, dengan kemarahan tertuju pada pelatih Hong Myung-bo dan federasi sepak bola (KFA).
- Audit pemerintah menemukan proses perekrutan pelatih sarat kepentingan pribadi, memperkuat tuduhan kronisme dan lemahnya tata kelola di KFA.
- Krisis ini memicu perbandingan dengan Jepang yang dinilai lebih maju dalam pembinaan jangka panjang, serta mendorong seruan perubahan sistemik dari presiden hingga penggemar.

Suporter sepak bola Korea Selatan meluapkan kemarahan mereka di Bandara Incheon, Seoul, saat menjemput kepulangan tim nasional yang tersingkir di babak grup Piala Dunia. Spanduk bertuliskan "Sepak Bola Korea Sudah Mati" menjadi simbol kekecewaan yang mendalam, terutama terhadap pelatih Hong Myung-bo, yang dianggap gagal membawa tim berprestasi di panggung terbesar.
Hong, yang merupakan kapten tim saat Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002, langsung menjadi sasaran protes. Suporter berteriak "Hong out!" dan mengikutinya hingga ke mobil. Seorang penggemar mengungkapkan bahwa sejak sebelum turnamen, banyak yang sudah meminta Hong mundur. Kritik ini bukan hal baru—penunjukan Hong pada 2024 telah menuai kontroversi sejak awal, dengan tuduhan bahwa Korea Football Association (KFA) tidak transparan dan lebih mengutamakan koneksi pribadi daripada kompetensi.
Kritikus menilai KFA telah lama dikendalikan oleh kelompok kepentingan. Mantan pemain Park Joo-ho, anggota komite rekomendasi pelatih, mengungkapkan bahwa proses seleksi tidak diikuti prosedur yang semestinya. Klaimnya didukung legenda sepak bola Korea, Park Ji-sung, yang mengatakan kepercayaan publik terhadap KFA telah hilang dan butuh waktu lama untuk memulihkannya. Audit pemerintah kemudian mengonfirmasi bahwa direktur teknis KFA, tanpa wewenang, mewawancarai Hong atas instruksi ketua Chung Mong-gyu, dan keputusan penunjukan sudah diambil sebelum disetujui dewan.
Kekalahan dari Meksiko dan Afrika Selatan, setelah kemenangan tipis atas Republik Ceko, memperburuk situasi. Keputusan Hong yang tidak menurunkan bintang utama Son Heung-min sebagai starter memicu spekulasi tentang hubungan keduanya. Pengamat olahraga Choi Dong-ho menilai Hong tidak mampu memaksimalkan potensi Son, yang kerap terisolasi di lini depan. "Alih-alih mengubah taktik, Hong hanya mengganti pemain," ujar Choi.
Krisis ini memicu perbandingan dengan Jepang, yang dinilai lebih maju dalam pembinaan jangka panjang. Sejak 2002, Korea Selatan telah berganti lebih dari sepuluh pelatih, sementara Jepang membangun tim yang solid. "Korea Selatan seolah memulai dari nol setiap empat tahun," kata Choi. Presiden Lee Jae Myung menyerukan reformasi menyeluruh, menekankan bahwa nepotisme telah mengorbankan kompetisi.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya tata kelola yang transparan dalam organisasi olahraga. Kasus KFA mengingatkan pada tantangan serupa di Tanah Air, di mana isu kronisme dan lemahnya pembinaan jangka panjang kerap menghambat prestasi. Jika Korea Selatan—dengan infrastruktur dan basis penggemar yang kuat—saja bisa terpuruk, Indonesia perlu waspada agar tidak terjebak dalam pola yang sama. Pertanyaan besarnya: mampukah KFA melakukan reformasi yang diharapkan, atau justru semakin terperosok dalam pusaran kepentingan?



