Pilot AS Tewas Ditembak, Pesawat Dibakar: Eskalasi Konflik Papua Makin Memanas
Baca dalam 60 detik
- Kelompok separatis TPNPB mengklaim telah menembak mati pilot Amerika Serikat dan membakar pesawatnya di Papua Pegunungan sebagai bentuk perlawanan terhadap penerbangan sipil yang dianggap mendukung militer Indonesia.
- Pemerintah Indonesia mengonfirmasi pesawat ditemukan hangus, namun nasib pilot dan tujuh penumpang lainnya masih belum jelas, sementara otoritas penerbangan sipil menyebut komunikasi putus sesaat setelah mendarat.
- Insiden ini menambah panjang daftar kekerasan di Papua, menyusul pembebasan pilot Selandia Baru tahun lalu dan penembakan pilot lain sebulan sebelumnya, mempertegas urgensi penyelesaian konflik yang telah berlangsung sejak 1969.

Kelompok separatis Papua kembali melancarkan serangan brutal dengan menembak mati seorang pilot Amerika Serikat dan membakar pesawatnya di wilayah Highland Papua, Kamis lalu. Aksi ini menjadi pukulan telak bagi otoritas Indonesia yang tengah berupaya mengendalikan situasi keamanan di daerah konflik berkepanjangan tersebut.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggung jawab atas tewasnya Nicholas F Gosselin, pilot asal AS yang pesawatnya hangus terbakar setelah mendarat di Bandara Yahukimo. Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, menyatakan bahwa kelompoknya telah melarang semua penerbangan di wilayah yang disengketakan karena pesawat sipil kerap digunakan untuk mendukung aktivitas militer Indonesia. โKami segera menembak dan membakar pesawat itu karena melanggar ultimatum TPNPB,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengonfirmasi bahwa pesawat ditemukan dalam kondisi terbakar, namun belum dapat memastikan nasib pilot dan tujuh penumpang lainnya. โLaporan awal dari direktur bandara tempat pesawat lepas landas menyebutkan pilot telah meninggal, namun penyebab pasti masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari otoritas terkait,โ demikian pernyataan resmi otoritas penerbangan sipil. Sementara itu, Yusuf Sutejo, juru bicara operasi gabungan TNI-Polri, mengaku belum bisa memastikan apakah pesawat diserang kelompok separatis atau apa yang terjadi pada penumpang.
Serangan ini bukanlah yang pertama. Pada 2024, seorang pilot Selandia Baru dibebaskan setelah 19 bulan disandera oleh kelompok yang sama, menyusul negosiasi alot antara Jakarta dan Wellington. Namun sebulan sebelumnya, TPNPB juga menembak mati pilot helikopter asal Selandia Baru, Glen Malcolm Conning, yang baru saja mendarat di desa terpencil. Pola serangan yang berulang ini menunjukkan eskalasi taktik separatis yang semakin berani menargetkan penerbang sipil sebagai alat tekanan politik.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi ujian serius bagi kemampuan aparat mengamankan wilayah Papua yang kaya sumber daya alam. Selama bertahun-tahun, konflik antara pemerintah dan masyarakat adat Papua yang menginginkan kemerdekaan telah menelan banyak korban. Sambom menegaskan bahwa kelompoknya siap menembak setiap pesawat sipil yang membantu militer Indonesia, seraya menyerukan negosiasi langsung dengan Jakarta untuk menyelesaikan konflik. โJika pejabat Indonesia ingin mengambil jenazah pilot, mereka harus datang tanpa membawa pasukan militer atau polisi,โ ancamnya.
Dari sisi keamanan penerbangan, insiden ini memicu kekhawatiran akan keselamatan pilot asing yang beroperasi di Papua. Maskapai dan operator penerbangan sipil kini dihadapkan pada risiko tinggi, terutama jika ultimatum TPNPB benar-benar diterapkan secara sistematis. Pemerintah Indonesia diharapkan segera meningkatkan koordinasi intelijen dan pengamanan bandara-bandara kecil di daerah rawan, namun tanpa penyelesaian politik yang mendasar, aksi kekerasan serupa mungkin akan terus terulang.
Kedutaan Besar AS di Jakarta dan Departemen Luar Negeri AS belum memberikan komentar resmi. Namun, tekanan diplomatik terhadap Indonesia kemungkinan akan meningkat, mengingat warga negara AS menjadi korban langsung. Pertanyaannya, akankah Jakarta mengambil langkah konkret untuk membuka dialog dengan kelompok separatis, atau justru memperkuat pendekatan militer yang selama ini terbukti tidak mampu menghentikan siklus kekerasan?



