Anwar Imbau Perantau Johor Pulang Coblos: Suara Muda Penentu Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Anwar Ibrahim meminta pekerja migran dan pemuda Johor di luar daerah untuk kembali ke kampung halaman pada 11 Juli demi menentukan arah pemerintahan negara bagian.
- Anwar menegaskan pemisahan wewenang pusat-daerah: proyek besar seperti JS-SEZ dan RTS Link menjadi tanggung jawab federal, sementara perumahan rakyat dan pedagang kecil urusan provinsi.
- Dalam kampanye yang diwarnai isu sentimen rasial, Anwar mengingatkan pemilih muda agar tidak terpengaruh retorika supremasi Melayu yang justru menguntungkan segelintir elit.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyerukan kepada seluruh warga Johor yang bekerja di luar daerah—khususnya generasi muda—untuk pulang ke kampung halaman pada 11 Juli mendatang guna menggunakan hak pilihnya. Menurutnya, partisipasi mereka akan menjadi penentu dalam mengamankan masa depan negara bagian dan kesejahteraan masyarakat Johor secara keseluruhan.
Seruan itu disampaikan Anwar dalam acara Kita GenK Madani X Anak Muda Bukit Batu di Kulai, Jumat kemarin. Ia secara khusus menyapa para pekerja yang merantau ke Singapura dan Kuala Lumpur, mengingatkan bahwa satu suara dapat mengubah peta politik Johor. “Kamu perlu menjaga masa depanmu dan masa depan Johor,” ujarnya di hadapan ribuan anak muda yang hadir.
Dalam pidatonya, Anwar juga menegaskan batas tegas antara tanggung jawab pemerintah pusat dan negara bagian. Ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap proyek-proyek raksasa seperti Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) dan Jalur Transit Cepat (RTS) Link yang menghubungkan Johor Baru dengan Singapura. “Serahkan proyek mega itu kepada kami. Kami punya dana untuk itu,” kata Anwar. Sebaliknya, ia mendorong pemerintah negara bagian untuk fokus pada urusan yang lebih dekat dengan rakyat, seperti pedagang kaki lima, pasar tradisional, dan pemeliharaan rumah kos rendah.
Anwar mencontohkan keberhasilan Kuala Lumpur, Selangor, dan Perak dalam merevitalisasi perumahan kos rendah berkat kerja sama erat antara pemerintah negara bagian dan Kementerian Perumahan dan Pemerintahan Daerah. Ia mengisyaratkan bahwa pemerintah federal akan menambah bantuan kesejahteraan bagi rakyat, meskipun enggan merinci lebih lanjut. “Saya belum bisa mengumumkannya sekarang. Jika kalian mendukung pemerintahan Madani, kami akan membantu semampu kami,” ujarnya diplomatis.
Di sisi lain, Anwar juga menyentuh isu sensitif yang belakangan mendominasi panggung politik Johor. Dalam acara terpisah di proyek perumahan rakyat Kempas, ia memperingatkan pemilih muda agar tidak mudah terpengaruh oleh retorika politik yang mengusung sentimen rasial. “Ada yang mengatakan bahwa mayoritas Melayu akan kehilangan kekuasaan. Itu tidak benar,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa narasi semacam itu justru kerap digunakan oleh oknum yang diam-diam mengeruk kekayaan negara, termasuk dana yang seharusnya untuk kaum Melayu miskin.
Pernyataan itu diperkuat saat Anwar bertemu dengan pemimpin Kristen Johor di Johor Baru. Ia menyebut “serangan rasisme dan fanatisme agama” sebagai salah satu tantangan terbesar dalam membangun masyarakat yang inklusif. “Semakin keras mereka bicara tentang supremasi Melayu, semakin kaya mereka. Mereka bicara melindungi Melayu, tapi diam-diam menghamburkan kekayaan publik,” sindir Anwar tanpa menyebut nama partai tertentu.
Anwar menegaskan bahwa masa depan Malaysia bergantung pada penolakan terhadap ekstremisme dan penguatan persatuan. Ia menjamin bahwa pemerintah federal berkomitmen menjaga kebebasan beragama dan berinteraksi secara adil dengan semua komunitas, meskipun mengakui masih ada ruang perbaikan di tingkat negara bagian dan dewan kota. “Setiap pemimpin di semua level harus terus melibatkan semua komunitas secara adil agar Malaysia tetap damai, stabil, dan progresif,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang membedakan urusan pusat dan daerah, serta ajakan untuk tidak terpecah belah oleh isu identitas, Anwar berharap pemilih Johor—khususnya generasi muda—dapat menentukan pilihan secara rasional. Pertanyaan besarnya, akankah imbauan ini cukup untuk menggerakkan para perantau kembali ke bilik suara?



