Kane Selamatkan Inggris dari Malapetaka, Tuchel Masih Punya Pekerjaan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane mencetak dua gol di menit akhir untuk membalikkan keadaan dan membawa Inggris lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Penampilan tim yang tidak meyakinkan, terutama di lini belakang dan kreativitas, membuat pelatih Thomas Tuchel menghadapi kritik tajam.
- Pertandingan melawan Meksiko di stadion Azteca akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad yang masih mencari bentuk terbaiknya.

Harry Kane menjadi pahlawan Inggris setelah dua golnya di menit akhir menyelamatkan tim dari kekalahan memalukan melawan Republik Demokratik Kongo pada babak grup Piala Dunia 2026. Kemenangan 2-1 itu memastikan langkah Inggris ke babak 16 besar, namun performa buruk sepanjang laga memunculkan pertanyaan serius tentang kesiapan tim asuhan Thomas Tuchel.
Inggris nyaris mencatatkan salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah Piala Dunia mereka. Tertinggal hingga menit ke-75, skuad The Three Lions tampil tanpa ide dan rentan di lini belakang. Kane akhirnya muncul dengan dua gol pada menit ke-86 dan 90+3, membalikkan keadaan dan menghindarkan Tuchel dari mimpi buruk yang bisa menyamai kekalahan dari Islandia di Euro 2016 atau Amerika Serikat di Piala Dunia 1950.
Namun, kemenangan dramatis ini tidak menutupi masalah struktural yang sudah terlihat sejak turnamen dimulai. Tuchel masih belum menemukan komposisi tim inti yang solid. Rotasi besar-besaran di posisi bek kanan dan sayap menunjukkan kebingungan taktis. Declan Rice, yang biasanya menjadi jangkar di lini tengah, harus bermain sebagai bek kanan melawan DR Kongoโsebuah langkah yang oleh para pengamat dianggap sebagai pengakuan atas kesalahan pemilihan skuad.
Keputusan Tuchel meninggalkan pemain kreatif seperti Cole Palmer dan Phil Foden di rumah juga terus menjadi sorotan. Inggris hanya mampu mencetak satu gol dalam dua laga terakhir sebelum melawan DR Kongo, termasuk hasil imbang tanpa gol melawan Ghana. Mantan kapten Inggris Wayne Rooney menilai tim terlalu terbuka saat kehilangan bola, terutama di lini tengah. "Melawan tim yang lebih baik, kita akan dalam masalah besar jika tidak segera memperbaikinya," ujar Rooney.
Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada Kane dan Bellingham menjadi kekhawatiran tersendiri. Keduanya telah menjadi motor serangan Inggris, tetapi jika salah satu cedera atau performa menurun, opsi pengganti sangat terbatas. Tuchel tampaknya belum sepenuhnya percaya pada Watkins dan Toney, yang tidak diberi menit bermain berarti meski tim sedang kesulitan mencetak gol.
Laga selanjutnya melawan Meksiko di Stadion Azteca, markas salah satu tim tuan rumah, akan menjadi ujian berat. Atmosfer panas dan ketinggian kota Meksiko bisa menjadi faktor pembeda. Mantan bek Inggris Micah Richards menyarankan Tuchel untuk memainkan Ezri Konsa di bek kanan dan mengembalikan John Stones ke jantung pertahanan demi keseimbangan tim. "Kamu butuh energi Rice di lini tengah, bukan di bek kanan," tegas Richards.
Bagi Indonesia, perjalanan Inggris ini menarik untuk dicermati sebagai studi kasus bagaimana tekanan turnamen besar bisa mengungkap kelemahan tim yang dianggap favorit. Pelajaran tentang pentingnya kedalaman skuad dan fleksibilitas taktik relevan bagi perkembangan sepak bola nasional yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2034.
Pertanyaan besarnya: apakah Tuchel mampu meramu strategi yang tepat sebelum menghadapi Meksiko, atau akankah Inggris kembali bergantung pada momen magis Kane untuk lolos dari lubang jarum?



