Dear You Versi Teochew Laris Manis: 70 Layar Tambahan Disiapkan di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Penambahan 70 pemutaran komersial film Dear You dalam bahasa Teochew di Singapura menyusul 40 sesi sebelumnya ludes terjual dalam tiga jam.
- Distributor menggandeng organisasi akar rumput untuk menggelar 30 pemutaran komunitas khusus bagi warga senior.
- Fenomena ini memicu diskusi tentang pelestarian dialek dan warisan budaya Tionghoa di tengah kebijakan bahasa Singapura.

Permintaan yang melonjak untuk pemutaran film Dear You dalam bahasa Teochew di Singapura mendorong distributor menambah 70 layar komersial baru, hanya sepekan setelah 40 sesi tambahan habis terjual dalam hitungan jam. Langkah ini menunjukkan animo publik yang luar biasa terhadap film drama keluarga asal China tersebut, yang telah meraup lebih dari 1,8 miliar yuan atau sekitar US$265 juta di pasar domestiknya.
Distributor Clover Films bersama Golden Village (GV) mengumumkan perluasan jadwal pada 1 Juli, dengan tiket untuk sesi baru mulai dijual pada 2 Juli melalui loket dan platform daring Golden Village serta Shaw. Pemutaran tambahan akan berlangsung dari 3 hingga 12 Juli di sembilan lokasi bioskop, termasuk GV Bugis+, GV Cineleisure, Shaw Lido, dan Shaw JEM—sejumlah tempat yang sebelumnya tidak menjadwalkan film ini.
Selain pemutaran komersial, Clover Films dan GV juga berencana bekerja sama dengan organisasi akar rumput dan komunitas untuk menyelenggarakan 30 pemutaran komunitas. Inisiatif ini ditujukan khusus bagi warga senior, mengingat film ini mengangkat tema migrasi, pengorbanan, dan tradisi pengiriman surat serta remitansi oleh perantau China kepada keluarga di kampung halaman—cerita yang dekat dengan generasi tua.
Direktur Utama Clover Films, Lim Teck, menyatakan kegembiraannya atas respons positif terhadap pemutaran berbahasa Teochew. "Kami senang dapat memperluas tayangan dengan sesi tambahan di lebih banyak bioskop untuk memenuhi permintaan penonton. Kami berharap film ini terus memicu percakapan antargenerasi dan mendorong lebih banyak orang untuk merangkul serta melestarikan budaya kita," ujarnya.
Fenomena ini tidak hanya soal box office. Pemutaran versi Teochew—sebuah dialek Tionghoa yang semakin jarang digunakan di Singapura—telah memicu diskusi lebih luas tentang pelestarian dialek, warisan budaya Tionghoa, dan kebijakan bahasa setempat. Sejak kemerdekaan, Singapura gencar mempromosikan bahasa Mandarin dan Inggris, sementara dialek seperti Teochew, Hokkien, dan Kanton perlahan tergerus. Kesuksesan Dear You menunjukkan bahwa masih ada kerinduan terhadap bahasa ibu di kalangan generasi tua dan minat dari generasi muda untuk mengenal akar budaya mereka.
Bagi Indonesia, fenomena serupa bisa menjadi pelajaran. Di dalam negeri, film-film berbahasa daerah seperti Yowis Ben (bahasa Jawa) atau Makmum 2 (bahasa Sunda) juga mendapat sambutan hangat, namun belum ada yang mencapai skala seperti Dear You. Pertanyaannya, mampukah industri film Indonesia menangkap momentum serupa dengan menghadirkan konten berkualitas dalam bahasa daerah yang tidak hanya menghibur tetapi juga menggugah kesadaran budaya? Ataukah kebijakan bahasa nasional yang sentralistik akan tetap menjadi penghalang?
Ke depan, kesuksesan Dear You di Singapura bisa menjadi tolok ukur bagi pasar film Asia Tenggara. Jika distributor mampu mempertahankan momentum dan memperluas jangkauan ke komunitas diaspora Tionghoa di negara lain, bukan tidak mungkin film ini akan menjadi katalis bagi kebangkitan kembali produksi film berbahasa daerah. Namun, tantangan logistik dan komersial tetap ada: apakah minat ini hanya sekadar nostalgia sesaat, atau benar-benar dapat berkelanjutan?



