Pertamina Patra Niaga Percepat Pemulihan Pasokan BBM dan LPG di Flores: 35 SPBU Kembali Beroperasi
Baca dalam 60 detik
- Enam terminal bahan bakar utama di Flores telah beroperasi penuh, sementara tiga lainnya menunggu akses jalan pulih.
- Sebanyak 35 dari 52 SPBU di wilayah terdampak gempa telah aktif kembali, dengan tambahan tiga unit dalam sehari terakhir.
- Pertamina mengandalkan jalur laut dan alih suplai dari terminal di Labuan Bajo, Bima, Ende, dan Maumere untuk menutup celah distribusi.

Gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengancam kelangsungan distribusi energi bagi ribuan warga. PT Pertamina Patra Niaga merespons dengan mempercepat pemulihan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG di wilayah tersebut, memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah darurat.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (16/8/2026), menyatakan bahwa pihaknya bergerak cepat menangani dampak gempa. Upaya yang dilakukan mencakup pemulihan sarana dan fasilitas energi, penguatan rantai distribusi, hingga penerapan skema alih suplai dari terminal-terminal terdekat. Langkah ini menjadi krusial mengingat Flores merupakan salah satu destinasi wisata super prioritas yang kini terdampak bencana.
Dari sisi infrastruktur, enam dari sembilan fuel terminal (FT) di wilayah Flores telah beroperasi dan menjalankan suplai secara normal. Tiga FT lainnya masih melakukan persiapan penyaluran sambil menunggu akses jalan yang tertimbun longsor kembali dapat dilalui. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak seragam; sebagian wilayah sudah pulih, sementara lainnya masih terisolasi.
Di tingkat penyalur, pemulihan SPBU menunjukkan progres signifikan. Dari total 52 SPBU di Flores, 35 di antaranya telah kembali beroperasi, atau bertambah tiga unit dibandingkan hari sebelumnya. Namun, 17 SPBU lainnya masih dalam tahap pemulihan bertahap. Sejumlah mitra dan tenaga operasional masih fokus pada proses evakuasi dan pemulihan, sementara beberapa lokasi menghadapi kendala listrik, gangguan jaringan komunikasi, serta kerusakan sarana yang cukup parah.
Untuk mengatasi hambatan distribusi, Pertamina Patra Niaga menyiapkan jalur alternatif melalui alih suplai dari FT Labuan Bajo, FT Bima, FT Ende, dan FT Maumere. Selain itu, moda transportasi laut dikerahkan untuk memperkuat pasokan ke wilayah yang akses daratnya terputus. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kelangkaan BBM dan LPG yang dapat memicu kepanikan serta menghambat proses evakuasi dan pemulihan pascabencana.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama di kawasan timur, kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur energi di daerah rawan gempa. Ketergantungan pada jalur darat yang mudah longsor menuntut adanya skema cadangan yang lebih tangguh. Pertamina sendiri telah menunjukkan komitmennya dengan mengaktifkan mekanisme darurat, namun pertanyaannya adalah seberapa cepat pemulihan total dapat dicapai dan apakah infrastruktur yang ada akan diperkuat untuk menghadapi bencana serupa di masa depan.
Ke depan, evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan fasilitas energi di Flores menjadi keniscayaan. Apakah akan ada relokasi terminal atau pembangunan jalur distribusi alternatif yang lebih permanen? Publik menunggu langkah konkret Pertamina dan pemerintah untuk memastikan kejadian serupa tidak lagi melumpuhkan pasokan energi di wilayah yang sama.



