Gempa M 7,7 di NTT: Korban Tewas Capai 51 Orang, Operasi SAR Diperluas ke Tiga Kabupaten
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa Flores bertambah menjadi 51 orang, dengan 132 luka-luka, dan total 183 terdampak.
- Basarnas mengerahkan helikopter di Labuan Bajo untuk evakuasi medis udara dan memperluas pencarian ke Manggarai Timur, Manggarai, dan Nagekeo.
- Kepala Basarnas turun langsung ke lapangan untuk memantau penanganan darurat, sementara penyisiran darat menjangkau radius 6,3 kilometer.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada pekan ini telah menewaskan sedikitnya 51 orang dan melukai 132 lainnya hingga Minggu siang. Angka ini diperkirakan masih akan berubah seiring berlanjutnya proses evakuasi dan pendataan di lapangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang berkoordinasi dengan tim SAR mencatat total warga terdampak mencapai 183 jiwa. Data tersebut bersifat dinamis dan akan terus diperbarui secara berkala. Hari kedua operasi pencarian dan pertolongan, Kantor SAR Maumere bersama potensi SAR dari TNI, Polri, dan relawan memperluas jangkauan ke tiga kabupaten yang paling parah terdampak: Manggarai Timur, Manggarai, dan Nagekeo.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, telah tiba di Pulau Flores untuk memantau langsung situasi. Ia dijadwalkan meninjau wilayah terdampak di Kabupaten Manggarai Timur, salah satu titik terparah. Untuk mempercepat akses medis, Basarnas menyiagakan satu helikopter di Bandara Komodo Labuan Bajo. Helikopter ini disiapkan untuk evakuasi medis udara jika diperlukan, kata Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, dalam keterangan tertulisnya.
Di Manggarai Timur, tim gabungan mengevakuasi seorang nelayan yang dilaporkan tenggelam saat gempa terjadi. Korban ditemukan pada pukul 09.30 WITA di perairan Pantai Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, penyisiran darat terus dilakukan di Manggarai dan Nagekeo sesuai Rencana Operasi hari kedua. Tim menjangkau radius hingga 6,3 kilometer, meliputi Kecamatan Reo di Manggarai serta Kelurahan Mbay, Desa Tungurambang, Desa Nangadhero, dan Desa Marpokot di Nagekeo.
Operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlanjut. Tim SAR memastikan tidak ada warga yang masih membutuhkan pertolongan, terutama di daerah terpencil yang aksesnya terputus akibat gempa. Gelombang susulan dan kondisi tanah yang labil menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Bencana ini menjadi ujian nyata bagi kesiapsiagaan Indonesia dalam menghadapi gempa besar, mengingat letak geologis NTT yang berada di zona subduksi. Pertanyaan yang mengemuka: apakah sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi telah berjalan efektif, dan bagaimana pemerintah akan memperkuat infrastruktur tahan gempa di wilayah timur Indonesia ke depan?



