Delapan Daerah di Sumsel Siaga Darurat Karhutla, Ogan Ilir Terdepan Padamkan Api
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan di delapan kabupaten/kota menjelang puncak musim kemarau.
- Ogan Ilir menjadi salah satu wilayah dengan titik api terbanyak, memaksa petugas gabungan berjibaku memadamkan lahan yang terbakar di Pemulutan Barat dan Sungai Rambutan.
- Status darurat ini memungkinkan mobilisasi sumber daya lintas instansi secara cepat untuk mencegah meluasnya karhutla yang kerap memicu kabut asap lintas batas.

Delapan daerah di Sumatera Selatan resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai respons terhadap puncak musim kemarau yang mulai melanda wilayah tersebut, dengan Ogan Ilir menjadi salah satu lokasi terdepan dalam upaya pemadaman api di lahan gambut.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, delapan kabupaten/kota yang berstatus siaga darurat meliputi Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Palembang, Prabumulih, dan Lubuklinggau. Penetapan ini dilakukan setelah pemantauan titik panas (hotspot) menunjukkan peningkatan signifikan dalam sepekan terakhir, terutama di daerah dengan tutupan lahan gambut yang luas.
Di Ogan Ilir, petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan dikerahkan untuk memadamkan kebakaran lahan yang melanda Kecamatan Pemulutan Barat dan Sungai Rambutan. Kondisi lahan gambut yang kering akibat kemarau membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya, karena api kerap membakar di bawah permukaan tanah (ground fire). Tim pemadam harus bekerja ekstra dengan alat berat dan pompa air portabel untuk menjangkau titik-titik api yang tersembunyi.
Kepala BPBD Sumsel, dalam keterangannya, menggarisbawahi bahwa status siaga darurat ini bukan sekadar formalitas. "Kami ingin memastikan seluruh sumber daya dapat digerakkan secara cepat tanpa hambatan birokrasi. Karhutla di Sumsel sering kali berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan aktivitas penerbangan, sehingga pencegahan dan pemadaman dini menjadi prioritas," ujarnya.
Fenomena karhutla di Sumatera Selatan bukanlah hal baru. Setiap musim kemarau, wilayah ini menjadi salah satu penyumbang utama kabut asap yang tidak hanya mengganggu provinsi tetangga, tetapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa lebih dari 60% titik panas di Sumatera terkonsentrasi di Sumsel, terutama di daerah dengan konsesi perkebunan dan hutan gambut yang rawan terbakar.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di Pulau Sumatera dan Kalimantan, karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan dan ekonomi. Kabut asap yang dihasilkan dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mengganggu transportasi udara, dan menurunkan produktivitas pertanian. Status siaga darurat di delapan daerah ini diharapkan dapat meminimalkan dampak tersebut, meskipun tantangan cuaca ekstrem akibat El Niรฑo masih membayangi.
Ke depan, efektivitas status siaga darurat ini akan sangat bergantung pada konsistensi patroli dan kesiapan logistik. Pertanyaan besarnya, apakah koordinasi lintas instansi yang sudah terbangun mampu mencegah meluasnya kebakaran seperti yang terjadi pada 2015 dan 2019, ketika kabut asap melumpuhkan sebagian besar wilayah Sumatera?



