NTU Provost Christian Wolfrum Ditunjuk Pimpin Program AI Nasional Singapura
Baca dalam 60 detik
- Christian Wolfrum, provost NTU, resmi menjabat sebagai executive chairman AI Singapore (AISG) mulai 1 Juli 2025, menggantikan Ho Teck Hua.
- Wolfrum membawa pengalaman membangun ekosistem riset AI di ETH Zurich dan Swiss, diharapkan mempercepat implementasi National AI Strategy 2.0 Singapura.
- Di bawah kepemimpinan sebelumnya, AISG telah menyelesaikan lebih dari 300 proyek AI dan melatih hampir 500 insinyur AI, memperkuat posisi Singapura sebagai hub AI global.

Singapura kembali memperkuat ambisinya menjadi pusat kecerdasan buatan (AI) global dengan menunjuk Christian Wolfrum, provost Nanyang Technological University (NTU), sebagai executive chairman AI Singapore (AISG) yang baru. Langkah ini diumumkan oleh Kementerian Pembangunan Digital dan Informasi (MDDI) serta National Research Foundation (NRF) pada Rabu (1/7), menandai babak baru dalam strategi AI nasional negara kota tersebut.
Wolfrum menggantikan Ho Teck Hua, yang juga menjabat presiden NTU, setelah delapan tahun memimpin AISG sejak didirikan pada 2017. Dalam pernyataan resmi, MDDI dan NRF menyebut Wolfrum memiliki pemahaman mendalam tentang ekosistem riset, inovasi, dan perusahaan Singapura, serta rekam jejak kuat dalam membangun ekosistem riset AI. Sebelum bergabung dengan NTU, ia menjabat wakil presiden riset di ETH Zurich, berperan kunci dalam mendirikan institut AI nasional Swiss dan inisiatif AI Swiss.
Sebagai ketua eksekutif, Wolfrum akan memimpin fase pertumbuhan AISG berikutnya, termasuk memajukan prioritas Singapura di bawah National AI Strategy 2.0. Ia menekankan pentingnya menjembatani akademisi dan industri. "Kekuatan unik AISG adalah posisinya di antarmuka akademisi dan industri, dan di situlah juara AI dibangun," ujarnya. Ia menambahkan bahwa riset tanpa dampak industri tidak lengkap, dan industri tanpa riset mendalam bersifat jangka pendek.
Kepemimpinan sebelumnya di bawah Ho Teck Hua mendapat apresiasi luas. MDDI dan NRF mencatat bahwa Ho telah memperkuat kemitraan lintas akademisi, industri, dan pemerintah, serta menjadikan AISG sebagai pilar ekosistem AI nasional. Tan Chorh Chuan, sekretaris tetap Riset dan Pengembangan Nasional, menyebut Ho telah "menjangkarkan kemampuan nasional penting di AI, memperkuat kolaborasi, dan membangun platform berharga untuk pengembangan bakat, inovasi, dan adopsi industri."
Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah persaingan global yang semakin ketat di bidang AI. Singapura, yang selama ini dikenal sebagai hub riset dan inovasi, berupaya mempertahankan daya saingnya dengan mempercepat adopsi AI di sektor bisnis dan pemerintahan. Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat posisi Singapura sebagai mitdagang dan investasi utama, serta sebagai barometer adopsi teknologi di kawasan. Langkah Singapura dapat menjadi tolok ukur bagi Indonesia dalam merumuskan strategi AI nasional yang lebih agresif.
Chng Kai Fong, sekretaris tetap Pembangunan Digital dan Informasi, menambahkan bahwa pengalaman Wolfrum dalam membangun ekosistem riset dan komitmennya terhadap kolaborasi akan menjadi aset berharga bagi AISG. Dengan latar belakangnya di ETH Zurich dan NTU, Wolfrum diharapkan mampu memperkuat sinergi antara riset fundamental dan aplikasi industri, sebuah tantangan yang juga dihadapi banyak negara berkembang termasuk Indonesia.
Ke depan, fokus AISG di bawah Wolfrum kemungkinan akan mencakup perluasan program pengembangan bakat, peningkatan kolaborasi internasional, dan mendorong adopsi AI di sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, keuangan, dan logistik. Pertanyaannya, apakah Singapura mampu mempertahankan momentumnya di tengah gelombang investasi AI global yang semakin masif, terutama dari Amerika Serikat dan Tiongkok?



