Lonjakan AI Dorong Laba Perusahaan Jepang Cetak Rekor Enam Tahun Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan besar Jepang diprediksi membukukan laba bersih rekor untuk tahun fiskal keenam berturut-turut hingga Maret 2027, didorong permintaan AI yang melesat.
- Sektor semikonduktor dan elektronik menjadi motor utama pertumbuhan, dengan laba sektor peralatan listrik diperkirakan lebih dari dua kali lipat.
- Meskipun ketegangan di Timur Tengah sempat mengerek harga minyak, analis yakin perusahaan Jepang mampu mengatasi tekanan dan merevisi naik proyeksi laba.

Lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) diprediksi membawa perusahaan-perusahaan besar Jepang mencetak laba bersih rekor untuk tahun keenam berturut-turut pada tahun fiskal 2026, mengalahkan tekanan biaya dari konflik Timur Tengah. Analis dari sejumlah sekuritas terkemuka Jepang meyakini sektor teknologi yang solid akan menjadi penopang utama pertumbuhan.
Perlombaan membangun pusat data AI terus mendorong ekspansi produsen semikonduktor, peralatan pembuatan chip, dan komponen elektronik lainnya. SMBC Nikko Securities memperkirakan laba bersih 250 perusahaan besar yang terdaftar di Bursa Efek Tokyo akan melonjak 19,3 persen pada tahun fiskal ini, dipimpin oleh perusahaan terkait industri semikonduktor. Nomura Securities memproyeksikan kenaikan rata-rata 5,9 persen untuk 242 perusahaan besar, sementara Daiwa Securities memperkirakan pertumbuhan 5,1 persen untuk 210 emiten.
“Perusahaan terkait AI dan semikonduktor memimpin kenaikan laba dan diperkirakan terus tumbuh karena faktor negatif seperti harga minyak mentah tinggi mulai mereda,” ujar Hikaru Yasuda, kepala strategi ekuitas SMBC Nikko Securities, seperti dikutip Kyodo News.
Harga minyak mentah sempat melonjak setelah serangan AS-Israel ke Iran pada Februari lalu mengganggu pasokan minyak. Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global, menjadi sorotan karena Jepang sangat bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah. Namun, pasar minyak baru-baru ini kembali ke level mendekati sebelum krisis.
Permintaan chip yang kuat diperkirakan mendorong perusahaan seperti Kioxia Holdings Corp., Advantest Corp., dan Tokyo Electron Ltd. Kioxia, produsen utama memori flash NAND, pada Mei lalu mengumumkan laba bersih kuartal pertama tahun fiskalnya melonjak lebih dari 47 kali lipat menjadi 869 miliar yen (US$5,4 miliar) berkat permintaan semikonduktor untuk pusat data AI. Meski tidak memberikan proyeksi setahun penuh karena volatilitas geopolitik, perusahaan mengklaim tidak terpengaruh konflik Timur Tengah berkat diversifikasi sumber pengadaan.
“Industri terkait semikonduktor kemungkinan akan memimpin revisi naik proyeksi laba tahun ini,” kata Kenji Abe, kepala strategi Daiwa Securities. Iran disebut akan mengambil langkah membuka kembali Selat Hormuz berdasarkan nota kesepahaman dengan AS, namun ketidakjelasan waktu pembukaan membuat perusahaan tetap waspada. Perusahaan pelayaran besar seperti Nippon Yusen dan Mitsui O.S.K. Lines mendasarkan proyeksi pada asumsi blokade berlanjut hingga akhir Juni, dan memperkirakan laba bersih turun tahun ini.
Sektor otomotif yang terpukul tarif tinggi AS tahun lalu diperkirakan mencatat kenaikan laba bersih 36,5 persen tahun fiskal ini, setelah turun 34,6 persen tahun sebelumnya. Pada April 2025, Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 27,5 persen untuk mobil Jepang, naik tajam dari 2,5 persen. Tarif kemudian dinegosiasikan turun menjadi 15 persen pada Juli dan resmi diterapkan September. “Dampak tarif awalnya sangat besar karena diberlakukan dari nol, tetapi efeknya tahun ini akan berkurang karena sudah diperhitungkan,” ujar Masaki Motomura, senior equity strategist Nomura Securities. Depresiasi yen dan peluncuran model baru juga diharapkan mendukung sektor ini.
Bagi Indonesia, tren ini membawa peluang dan tantangan. Sebagai mitra dagang utama, Jepang adalah investor signifikan di sektor manufaktur dan elektronik Indonesia. Lonjakan laba perusahaan Jepang berpotensi meningkatkan investasi langsung dan alih teknologi, terutama di bidang semikonduktor dan AI. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak tetap menjadi risiko bagi perekonomian Indonesia yang juga bergantung pada impor energi. Analis memperkirakan perusahaan-perusahaan Jepang akan merevisi naik proyeksi laba mereka sepanjang tahun fiskal ini, seiring meredanya tekanan dari Timur Tengah. “Mereka kemungkinan mampu mengabaikan tekanan dari Timur Tengah,” kata Motomura. Pertanyaannya, akankah momentum ini berkelanjutan di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi?



