Yen Terpuruk ke Titik Terendah 40 Tahun, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Yen Jepang merosot ke level 162,84 per dolar AS, terlemah dalam empat dekade, memicu spekulasi intervensi dari otoritas moneter Jepang.
- Pasar global menanti data nonfarm payrolls AS yang diperkirakan menunjukkan penambahan 110.000 pekerjaan, yang bisa memperkuat dolar jika melampaui ekspektasi.
- Bank of Japan dikhawatirkan tertinggal dalam pengetatan moneter, sementara pemerintah Jepang mengadopsi strategi diam untuk membuat spekulan tidak nyaman.

Yen Jepang terperosok ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS, memicu kekhawatiran intervensi dari otoritas moneter Jepang di tengah tipisnya likuiditas menjelang libur nasional Amerika Serikat. Pasar global kini menanti data tenaga kerja AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama, melemah tipis 0,1 persen ke posisi 101,32 pada perdagangan Kamis (2/7). Sementara itu, yen Jepang menguat 0,23 persen ke level 162,18 per dolar setelah sebelumnya menyentuh titik terendah 162,84 pada Rabu (1/7). Sepanjang tahun ini, dolar AS telah menguat 3,54 persen terhadap yen, menjadikan mata uang Jepang sebagai salah satu yang paling tertekan.
Data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis hari ini diperkirakan menunjukkan penambahan 110.000 lapangan kerja pada Juni, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3 persen, menurut survei ekonom Reuters. Jika data tersebut melampaui ekspektasi, dolar berpotensi melanjutkan penguatannya. "Jika data penggajian melampaui ekspektasi pasar, dolar bisa melaju lebih tinggi karena rebound," ujar Akihiko Yokoo, analis senior Mitsubishi UFJ Bank, dalam catatannya.
Dolar AS mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Fed tahun ini, didorong oleh pasar tenaga kerja yang tangguh. Selama tiga bulan terakhir, pertumbuhan lapangan kerja AS secara konsisten melampaui perkiraan. Selain itu, adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang cepat turut menarik modal ke aset-aset AS, memperkuat posisi dolar. Sementara itu, euro diperdagangkan di level 1,135 dolar, dan poundsterling naik 0,13 persen menjadi 1,3288 dolar.
Di sisi lain, yen Jepang terus tertekan meskipun Bank of Japan (BOJ) telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada bulan lalu. Analis menilai tekanan jual yen kembali meningkat karena kekhawatiran BOJ tertinggal dalam siklus pengetatan moneter. Survei Tankan BOJ baru-baru ini mengindikasikan bahwa ekspektasi inflasi perusahaan bisa naik lebih lanjut. "Jika hal itu berujung pada kenaikan harga dan upah lebih lanjut, menciptakan siklus inflasi yang semakin menguat, pasar bisa kembali fokus pada posisi BOJ yang tertinggal," kata Sho Suzuki, analis pasar Matsui Securities di Tokyo.
Pemerintah Jepang melalui cetak biru kebijakan ekonomi yang dirilis Selasa lalu meminta BOJ untuk menyelaraskan kebijakan moneter dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan. Hal ini semakin menyoroti potensi keterlambatan BOJ dalam merespons tekanan inflasi. Sumber Reuters melaporkan bahwa pejabat Jepang kini meninggalkan kebiasaan memberi sinyal risiko intervensi, dan beralih ke kampanye yang lebih terarah untuk menjepit spekulan dan menaikkan biaya bertaruh melawan yen. Mereka juga menghindari menyebutkan level nilai tukar tertentu yang akan memicu aksi, mencerminkan pendekatan agresif Kementerian Keuangan Jepang yang menggunakan kebisuan sebagai alat kebijakan untuk membuat pedagang terus menebak-nebak.
Para pedagang melihat libur nasional AS pada Jumat (3/7) sebagai celah potensial bagi Tokyo untuk turun tangan, karena likuiditas yang lebih tipis akan memperkuat dampak setiap aksi. Tony Sycamore, analis pasar IG Australia, mengatakan data tenaga kerja AS yang akan dirilis nanti bisa menjadi pemicu intervensi, tergantung hasilnya. "Cetakan tenaga kerja yang kuat akan memberikan bahan bakar baru bagi akun momentum dan makro untuk menambah posisi beli, mendorong pasangan mata uang menuju puncak saluran tren di area 165โ166," ujarnya. Sebaliknya, laporan yang lebih lemah dari perkiraanโmisalnya, penggajian sekitar 65.000 dengan tingkat pengangguran naik ke 4,4 persen atau lebihโakan meredakan sebagian tekanan dari reli baru-baru ini. Dalam skenario itu, Kementerian Keuangan Jepang bisa melakukan intervensi di perdagangan tipis menjelang akhir pekan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.
Dolar Australia diperdagangkan di level 0,6894 dolar AS, sementara dolar Selandia Baru naik tipis 0,1 persen menjadi 0,5677 dolar AS. Di pasar kripto, bitcoin naik 1,17 persen menjadi 60.769,72 dolar AS, dan ether naik hampir 1 persen menjadi 1.632,23 dolar AS.
Bagi Indonesia, pelemahan yen dan penguatan dolar AS berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah serta arus modal asing. Jika dolar terus menguat, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat, mengingat ketergantungan Indonesia pada impor dan utang luar negeri. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah BOJ akan mengambil langkah lebih agresif untuk menahan pelemahan yen, atau justru membiarkan pasar menemukan keseimbangan baru.



