Empat Petenis Inggris di Wimbledon: Bisakah Mereka Bangkit dari Keterpurukan?
Baca dalam 60 detik
- Empat petenis Inggris lolos ke babak kedua Wimbledon setelah hari pertama yang suram di mana seluruh wakil tuan rumah tersingkir.
- Katie Swan, Arthur Fery, Jan Choinski, dan Jacob Fearnley masing-masing memiliki cerita comeback yang unik, mulai dari cedera hingga karier yang meroket.
- Mereka akan menghadapi lawan berat seperti Madison Keys dan Frances Tiafoe, namun momentum kemenangan bisa menjadi modal berharga.

Empat petenis Inggris berhasil membawa secercah harapan di tengah awal yang kelam bagi tuan rumah pada Wimbledon tahun ini. Setelah seluruh sepuluh wakil Inggris tersingkir di hari pertama, kemenangan Katie Swan, Arthur Fery, Jan Choinski, dan Jacob Fearnley pada hari kedua menjadi angin segar bagi publik yang sempat diliputi kecemasan.
Swan, yang pernah dianggap sebagai prospek cerah sebelum cedera punggung kronis memaksanya pensiun pada 2024, kembali ke level tertinggi setelah menjalani perawatan baru. Ia berhasil mengalahkan Irina-Camelia Begu 6-4, 6-4, dan kini harus menghadapi juara Australia Terbuka 2025, Madison Keys. Meskipun Keys difavoritkan, Swan tidak memiliki beban dan bisa bermain lepas—faktor yang sering membuat underdog berbahaya.
Sementara itu, Arthur Fery menunjukkan ketangguhannya dengan membalikkan keadaan melawan Damir Dzumhur (3-6, 6-2, 6-2, 6-1). Postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi justru menjadi keunggulan di lapangan rumput, dengan pergerakan lincah dan kemampuan voli yang mematikan. Ia akan berhadapan dengan Otto Virtanen, yang baru saja mengalahkan unggulan keempat Ben Shelton dalam lima set. Kelelahan mental Virtanen bisa menjadi peluang bagi Fery.
Jan Choinski, petenis Inggris nomor dua yang jarang mendapat sorotan, tampil dominan atas Vit Kopriva (6-3, 7-5, 6-2). Latar belakangnya sebagai penari balet hingga usia 12 tahun disebut memberikan keseimbangan dan kelenturan luar biasa. Namun, lawannya kali ini adalah Frances Tiafoe, juara Halle pekan lalu, yang sedang dalam performa terbaik.
Jacob Fearnley, yang setahun lalu masih menjadi mahasiswa tanpa peringkat, kini berada di peringkat 50 dunia setelah melalui pendakian meteorik. Ia bangkit dari ketertinggalan dua set untuk mengalahkan Alex Michelsen—sebuah pencapaian yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Lawannya, Jaume Munar, dikenal sebagai petarung tangguh, tetapi Fearnley memiliki kepercayaan diri baru setelah comeback dramatis tersebut.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah para petenis Inggris ini memberikan pelajaran tentang ketahanan dan adaptasi. Di tengah dominasi pemain-pemain top dunia, perjuangan Swan melawan cedera atau Fearnley yang naik daun secara cepat bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang kerap menghadapi keterbatasan fasilitas dan kompetisi. Wimbledon, sebagai ajang paling bergengsi, selalu menyajikan drama manusiawi yang melampaui sekadar skor.
Menurut analis tenis Naomi Broady, yang berbicara kepada BBC Sport, kunci keberhasilan para petenis Inggris adalah kemampuan mereka untuk memanfaatkan momen tanpa tekanan. “Ketika Anda bisa bermain bebas, itulah saat paling berbahaya,” ujarnya. Pertanyaan besarnya kini: bisakah mereka mempertahankan momentum dan melangkah lebih jauh, atau akankah babak kedua menjadi akhir dari kebangkitan singkat ini?



