IHSG Sesi I Melonjak 1,7%: Sentimen Domestik dan Global Jadi Beban di Balik Hijau
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,7% pada sesi pertama Kamis (2/6/2026), didorong saham bank besar dan emiten grup Prajogo Pangestu, namun volume transaksi masih rendah.
- Di balik penguatan, data ekonomi Indonesia menunjukkan tekanan: defisit perdagangan pertama dalam enam tahun dan inflasi Juni yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
- Pasar keuangan RI kini menghadapi ujian dari pidato Chairman The Fed Kevin Warsh serta data domestik yang melemah, berpotensi membalikkan momentum IHSG.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan sesi I, Kamis (2/6/2026), dengan lonjakan signifikan sebesar 1,7% ke level 5.792,17. Kenaikan ini terjadi di tengah data ekonomi domestik yang justru menunjukkan tekanan, mulai dari defisit neraca perdagangan hingga inflasi yang meningkat.
Sebanyak 458 emiten—hampir separuh dari total perusahaan tercatat—berhasil berada di zona hijau, sementara hanya 19% saham yang melemah dan sisanya stagnan. Namun, euforia ini belum diiringi geliat transaksi yang tinggi: nilai perdagangan baru mencapai Rp6,49 triliun dengan volume 12,4 miliar saham, menandakan pasar masih relatif sepi.
Penguatan IHSG hari ini ditopang oleh saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI yang kompak masuk dalam jajaran top movers. Tak ketinggalan, emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, BRPT dan BREN, turut mendorong indeks dengan bobot signifikan. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup naik 0,92% ke 5.695,12, dan indeks kini berupaya menembus level resistance 6.100–6.200.
Di balik kilau hijau IHSG, fundamental ekonomi Indonesia justru menunjukkan kerentanan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit US$1,61 miliar—pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor melonjak ke US$24,81 miliar. Defisit terakhir terjadi pada April 2020, saat pandemi menghantam, dengan angka US$0,38 miliar. Selain itu, inflasi Juni 2026 tercatat 0,44% secara bulanan (mtm), lebih tinggi dari inflasi Mei yang sebesar 0,28% mtm. Secara tahun kalender, inflasi mencapai 1,79%, dan secara tahunan (year-on-year) sebesar 3,34%.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi investor di dalam negeri. Defisit perdagangan yang membengkak dan inflasi yang meningkat dapat menekan nilai tukar rupiah serta memicu sikap hati-hati pelaku pasar. Apalagi, pasar keuangan Indonesia memasuki hari kedua semester II-2026 dengan sejumlah sentimen berat: data ekonomi yang melemah, serta pidato Chairman The Fed Kevin Warsh yang diperkirakan masih bernada hawkish. Kombinasi tekanan domestik dan global ini berpotensi menguji ketahanan IHSG dalam beberapa hari ke depan.
Para analis menilai bahwa penguatan IHSG hari ini lebih bersifat teknikal dan didorong oleh aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, tanpa katalis fundamental yang kuat, momentum ini sulit bertahan. Pertanyaan besarnya: akankah IHSG mampu mempertahankan level hijau di tengah derasnya arus negatif dari dalam dan luar negeri, ataukah ini hanya sekadar reli sesaat sebelum koreksi?



