Bank Sentral Vietnam Kewalahan Hadapi Tekanan Global: Target Tumbuh 10% Terancam
Baca dalam 60 detik
- Deputi Gubernur Bank Sentral Vietnam mengakui risiko global seperti perang Iran dan penguatan dolar AS mempersulit pengelolaan kebijakan moneter.
- Inflasi Vietnam mencapai 5,6% pada Mei, melampaui target tahunan 4,5%, sementara target pertumbuhan ekonomi di atas 10% masih diupayakan.
- Bank sentral memprioritaskan pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas makro, namun tekanan nilai tukar dong dan harga komoditas menjadi tantangan besar.

Bank Sentral Vietnam (State Bank of Vietnam) mengakui bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah, telah mempersulit perumusan kebijakan moneter di tengah target pertumbuhan ekonomi ambisius yang ditetapkan pemerintah. Deputi Gubernur Pham Thanh Ha, dalam konferensi pers di Hanoi pada Kamis (2/7), menyatakan bahwa tekanan dari pasar komoditas dan keuangan internasional semakin membebani perekonomian Vietnam.
Vietnam, yang dikenal sebagai pusat manufaktur Asia Tenggara, menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 10% tahun iniโsebuah angka yang sangat tinggi didukung oleh belanja infrastruktur yang masif. Namun, perang Iran dan ketegangan perdagangan global yang berkelanjutan mengancam ambisi tersebut. "Ketegangan geopolitik dan friksi perdagangan terus berlanjut, sementara eskalasi konflik di Timur Tengah khususnya telah memberikan tekanan signifikan pada pasar komoditas dan keuangan internasional," ujar Ha.
Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat turut menekan nilai tukar dong Vietnam. Ha menegaskan bahwa bank sentral bekerja untuk menstabilkan pasar valuta asing dengan pendekatan yang fleksibel, dan memastikan bahwa permintaan valas di dalam negeri terpenuhi. Meski demikian, tekanan eksternal ini membuat tugas bank sentral semakin berat.
Kepala Departemen Kebijakan Moneter Bank Sentral Vietnam, Pham Chi Quang, menambahkan bahwa Vietnam menghadapi tekanan inflasi yang meningkat akibat keterbukaan ekonominya terhadap perekonomian global. Inflasi tahunan Vietnam pada Mei tercatat sebesar 5,6%, lebih tinggi dari target inflasi sebesar 4,5% untuk seluruh tahun. "Bank sentral akan menjadikan pengendalian inflasi sebagai prioritas selama sisa tahun ini untuk memastikan stabilitas makroekonomi, sambil tetap berupaya mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah di atas 10%," kata Quang.
Kondisi ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga menghadapi tantangan serupa. Sebagai negara dengan perekonomian terbuka, Indonesia rentan terhadap gejolak harga komoditas global dan pergerakan dolar AS. Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, namun tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah dapat menggoyahkan target inflasi nasional yang berada di kisaran 2,5% plus minus 1%. Pengalaman Vietnam menunjukkan betapa sulitnya menyeimbangkan antara pertumbuhan tinggi dan stabilitas harga di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, bank sentral Vietnam harus berjalan di atas tali tipis: mengendalikan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan. Pertanyaannya, mampukah Hanoi mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah badai global yang semakin kencang? Ataukah target 10% hanya akan menjadi angan-angan?



