Danantara Resmi Merger 7 BUMN Logistik: Target Biaya Turun Setara ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Tujuh perusahaan pelat merah di sektor logistik resmi bergabung di bawah bendera Danantara, ditandai dengan penandatanganan perjanjian pemegang saham pada akhir Juni 2026.
- Konsolidasi ini bertujuan memangkas fragmentasi dan tumpang tindih layanan yang selama ini membebani efisiensi logistik nasional.
- Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya logistik Indonesia yang masih di atas rata-rata negara ASEAN, sejalan dengan target RPJPN 2025-2045.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi mengonsolidasikan tujuh badan usaha milik negara (BUMN) di sektor logistik melalui skema merger. Penandatanganan Shareholders Agreement (SHA) dan Akta Penggabungan telah dilakukan pada Selasa (30/6/2026), menandai babak baru dalam upaya pemerintah merampingkan bisnis logistik pelat merah.
Tujuh entitas yang dilebur dalam konsolidasi ini meliputi Pelindo Sinergi Lokaseva Multiterminal Indonesia, Pelindo Sinergi Lokaseva Prima Indonesia Logistik, Pos Logistics, Pelni Logistics, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), dan Krakatau Integrated Logistics. Langkah ini merupakan implementasi dari Konsolidasi BUMN Logistik Nasional yang digagas oleh Danantara Asset Management (DAM), anak usaha Danantara yang mengelola portofolio investasi.
Senior Director Corporate Strategy DAM, Aurelius Altius Rosimin, menyebut penggabungan ini sebagai tonggak penting dalam transformasi portofolio DAM. Menurutnya, konsolidasi bertujuan memangkas fragmentasi entitas, mengoptimalkan skala usaha, serta mengeliminasi tumpang tindih layanan yang selama ini menghambat efisiensi logistik BUMN. “Penggabungan ini bertujuan untuk memangkas fragmentasi entitas, mengoptimalkan skala usaha, serta mengeliminasi tumpang tindih layanan yang selama ini mengganjal efisiensi logistik pelat merah,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (2/7/2026).
Selama ini, sektor logistik Indonesia menghadapi tantangan fragmentasi yang menyebabkan inefisiensi dan biaya tinggi. Dengan menyatukan kekuatan dari hulu ke hilir, konsolidasi ini diharapkan mampu memperbesar skala bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengurangi duplikasi fungsi. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi transformasi portofolio DAM untuk mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 serta program Asta Cita Pemerintah.
Bagi pelaku industri dan investor, merger ini membawa angin segar. Biaya logistik Indonesia yang selama ini lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam diharapkan bisa ditekan secara signifikan. Jika berhasil, daya saing produk Indonesia di pasar global akan meningkat, sekaligus memperkuat posisi Tanah Air sebagai pusat logistik regional. Namun, tantangan integrasi budaya perusahaan dan sistem operasional antar-BUMN yang berbeda tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Ke depan, efektivitas konsolidasi ini akan diuji dari kemampuan entitas baru dalam menekan biaya logistik nasional hingga setara rata-rata ASEAN. Pertanyaan besarnya, mampukah raksasa logistik anyar ini bersaing dengan pemain swasta dan asing yang sudah lebih dulu efisien?



