Rupiah Terus Merosot, Mendekati Level Psikologis Rp18.000 per Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah melemah 0,17% ke Rp17.960/US$ pada pembukaan perdagangan Kamis (2/7/2026), mendekati batas psikologis Rp18.000.
- Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan data tenaga kerja AS yang kuat, sementara inflasi Indonesia yang tinggi menambah beban.
- Pelaku pasar kini fokus pada rilis nonfarm payrolls AS yang dapat menentukan arah kebijakan moneter global dan pergerakan rupiah selanjutnya.

Rupiah kembali mengalami tekanan pada awal perdagangan Kamis (2/7/2026), mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka melemah 0,17% ke posisi Rp17.960/US$, melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya ketika rupiah ditutup turun 0,31% ke Rp17.930/US$.
Pelemahan ini terjadi di tengah stabilnya indeks dolar AS (DXY) di level 101,400 pada pukul 09.00 WIB. Pelaku pasar global cenderung wait-and-see menjelang rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Data ketenagakerjaan tersebut menjadi katalis penting karena dapat memberikan sinyal mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pernyataannya pada Rabu (1/7/2026) mengindikasikan bahwa ekspektasi inflasi dan risiko harga telah mereda dalam beberapa pekan terakhir. Namun, laporan ADP menunjukkan penyerapan tenaga kerja swasta masih tumbuh meski di bawah perkiraan. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed mungkin akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini, yang pada gilirannya mendukung penguatan dolar AS.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh data inflasi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7/2026). Inflasi bulanan Juni tercatat 0,44%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,28% dan melampaui konsensus pasar yang memperkirakan 0,30%. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,34%, juga di atas perkiraan 3,2%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan bahwa sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 2,29% dan andil 0,28% terhadap inflasi keseluruhan.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini mengurangi ruang gerak Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin berat. Para analis menilai bahwa kombinasi antara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi domestik yang persisten membuat rupiah rentan terhadap tekanan lebih lanjut. Pelaku pasar kini menanti rilis nonfarm payrolls AS pada Jumat (3/7/2026) yang diperkirakan menunjukkan penambahan 110.000 pekerja, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3%.
Jika data tenaga kerja AS menunjukkan hasil yang kuat, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan mendorong rupiah menembus level Rp18.000. Sebaliknya, data yang lemah dapat meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan memberi ruang bagi rupiah untuk pullback. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi potensi pelemahan rupiah lebih dalam di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian global?



