IHSG Menguat di Tengah Volatilitas, Tiga Saham Ini Layak Dicermati Investor
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 0,92% ke 5.695,12 pada perdagangan Rabu (1/7), didorong saham BREN, TLKM, dan BRPT.
- Aksi jual asing masih berlanjut dengan net sell Rp548 miliar di pasar reguler, sementara sektor energi memimpin penguatan.
- Investor bisa melirik NCKL yang mempercepat ekspansi smelter, UNTR yang kembali buyback Rp2 triliun, dan ERAA dengan dividen yield 7,86%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu (1/7) dengan kenaikan 0,92% ke level 5.695,12, meskipun tekanan jual asing masih membayangi pasar. Penguatan ini utamanya ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BREN, TLKM, dan BRPT, sementara BBRI, BMRI, dan CPIN justru menjadi pemberat pergerakan indeks.
Data perdagangan menunjukkan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp548,44 miliar di pasar reguler dan total Rp577,79 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, tujuh dari sebelas sektor berhasil ditutup menguat, dengan sektor energi memimpin kenaikan sebesar 2,61%. Sebaliknya, sektor transportasi menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,91%.
Dari pasar global, bursa Amerika Serikat melemah tipis. Dow Jones turun 0,03%, S&P 500 terkoreksi 0,22%, dan Nasdaq melemah 0,66%. Pelemahan ini dipicu oleh defisit neraca perdagangan AS, kontraksi PMI manufaktur, serta kekhawatiran atas suspensi 16 saham domestik yang belum menyampaikan laporan keuangan auditan. ETF EIDO yang mencatatkan pelemahan 0,27% turut menekan sentimen, meski indeks MSCI Indonesia masih mampu menguat 0,13%.
Di tengah volatilitas, beberapa aksi korporasi menarik perhatian. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mempercepat penyelesaian tiga proyek strategis di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. Proyek tersebut meliputi pembangunan smelter RKEF ketiga melalui anak usaha PT Karunia Permai Sentosa (KPS) dengan kapasitas 185.000 ton feronikel per tahun, pabrik quicklime, serta fasilitas daur ulang tailing. Smelter RKEF ketiga ditargetkan beroperasi penuh akhir tahun ini, sehingga total kapasitas feronikel Harita Nickel di Pulau Obi diproyeksikan mencapai 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.
PT United Tractors Tbk (UNTR) kembali mengumumkan program buyback saham dengan alokasi dana maksimal Rp2 triliun yang berasal dari kas internal. Program ini berlangsung pada 1 Juli hingga 30 September 2026. Sebelumnya, pada periode AprilโJuni 2026, UNTR telah menyiapkan dana serupa namun baru terealisasi Rp860,35 miliar untuk pembelian 35,53 juta saham. Dengan kas per akhir kuartal I-2026 sebesar Rp20,56 triliun, perseroan masih memiliki ruang likuiditas yang memadai. Jika seluruh buyback terealisasi, total aset diproyeksikan menjadi Rp180,50 triliun dan laba per saham (EPS) proforma meningkat menjadi sekitar Rp185.
Sementara itu, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp25 per saham, dengan total nilai sekitar Rp389,62 miliar. Dividend payout ratio mencapai 32,58% dari laba bersih. Sepanjang 2025, ERAA membukukan penjualan neto Rp76,61 triliun (tumbuh 17,35%) dan laba bersih Rp1,20 triliun (naik 15,83%). Dengan harga saham Rp318 per saham, dividen tersebut memberikan yield 7,86%. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 7 Juli, dengan pembayaran pada 31 Juli.
Analis merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati, antara lain NCKL (buy 805-810, TP 825-835, SL 765), MBMA (buy 496-505, TP 515-525, SL 475), ERAA (buy 362-364, TP 370-374, SL 346), dan JPFA (buy 1990-2010, TP 2030-2090, SL 1915). Meski demikian, investor tetap diingatkan bahwa seluruh rekomendasi bersifat informatif dan bukan ajakan bertransaksi.
Ke depan, pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik, termasuk data neraca perdagangan AS serta realisasi ekspansi korporasi seperti NCKL. Apakah aksi buyback UNTR dan dividen ERAA mampu menarik minat investor di tengah tekanan jual asing? Pasar akan terus memantau perkembangan tersebut.



