Belgium Bangkit dari Kubangan, Senegal Tersingkir Dramatis Lewat Penalti Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Belgia menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang lolos setelah tertinggal dua gol di menit-menit akhir waktu normal.
- Penalti kontroversial pada menit ke-125 memicu perdebatan soal konsistensi VAR, mengingatkan Senegal pada kekalahan di final Piala Afrika.
- Kemenangan ini menunjukkan sisa-sisa generasi emas Belgia masih mampu bersaing, meski performa tim belum konsisten.

Belgia mencatatkan comeback bersejarah di Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Senegal 3-2 melalui perpanjangan waktu, berkat gol penalti Youri Tielemans pada menit ke-125 โ gol terakhir dalam sejarah turnamen. Padahal, Senegal unggul 2-0 hingga menit ke-86 dan tampil dominan sepanjang laga.
Gol Romelu Lukaku pada menit ke-86 membuka jalan bagi kebangkitan Belgia. Tiga menit berselang, Tielemans menyundul bola ke gawang kosong setelah kiper Senegal, Mory Diaw, gagal mengantisipasi umpan silang Leandro Trossard. Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan. Di masa perpanjangan, wasit menganugerahkan penalti untuk Belgia setelah meninjau insiden pelanggaran Lamine Camara terhadap Tielemans melalui VAR. Keputusan itu menuai kritik dari sejumlah pengamat, termasuk Gary Neville dan Roy Keane, yang menilai pelanggaran tersebut terlalu ringan untuk dihadiahi penalti.
Bagi Senegal, kekalahan ini menjadi pukulan berat setelah sebelumnya mereka kehilangan gelar juara Piala Afrika akibat sanksi FIFA. Pelatih Pape Thiaw tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Kami sudah berusaha maksimal, tapi tidak mampu mempertahankan keunggulan. Ini sepak bola," ujarnya.
Kontroversi VAR kembali menjadi sorotan. Banyak pihak mempertanyakan lamanya waktu wasit meninjau tayangan ulang sebelum memutuskan penalti. Keane menilai wasit ragu-ragu dan tidak menunjukkan keyakinan. Situasi ini mengingatkan pada final Piala Afrika lalu, di mana Senegal juga dirugikan oleh keputusan VAR yang kontroversial.
Di sisi lain, Belgia membuktikan bahwa sisa-sisa generasi emas mereka masih bisa diandalkan. Meski Kevin De Bruyne ditarik keluar pada menit ke-58 karena frustrasi, Lukaku, Tielemans, dan Trossard menunjukkan ketangguhan mental. Pelatih Rudi Garcia memuji kedalaman skuadnya. "Kekuatan tim juga terletak pada pemain pengganti. Anda tidak bisa menang hanya dengan 11 pemain," katanya.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan yang mengajarkan bahwa sepak bola tidak pernah selesai hingga peluit akhir. Drama comeback Belgia bisa menjadi inspirasi bagi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, untuk tidak menyerah dalam situasi sulit. Namun, kontroversi VAR juga mengingatkan pentingnya transparansi dan konsistensi dalam pengambilan keputusan wasit.
Belgia kini bersiap menghadapi tuan rumah Amerika Serikat atau Bosnia-Herzegovina di babak 16 besar. Dengan performa yang masih naik-turun, mampukah mereka mempertahankan momentum dan melaju lebih jauh? Atau justru Senegal yang akan menyesali peluang emas yang terlepas begitu saja?



