Presiden Korsel Kecewa Berat Usai Timnas Gagal ke Babak Gugur Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Lee Jae Myung menyatakan kekecewaan mendalam melalui media sosial setelah Korea Selatan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026.
- Kegagalan ini terjadi meskipun pemerintah dan publik telah memberikan dukungan penuh, memicu evaluasi besar-besaran terhadap program sepak bola nasional.
- Hasil ini menjadi pengingat bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, bahwa investasi sepak bola tidak menjamin kesuksesan instan di panggung dunia.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara terbuka meluapkan kekecewaannya setelah tim nasional Taeguk Warriors gagal melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026. Dalam unggahan di platform media sosial X, Lee mengaku terkejut sekaligus sangat kecewa, meskipun tim telah mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat.
Kegagalan ini menjadi pukulan berat bagi Korea Selatan, yang sebelumnya menargetkan lolos ke perempat final. Tim asuhan pelatih Hong Myung-bo hanya mampu meraih satu kemenangan dan dua kekalahan di fase grup, finis di posisi ketiga. Padahal, pemerintah telah menggelontorkan dana besar untuk pembinaan pemain muda dan fasilitas latihan, termasuk membangun pusat pelatihan berteknologi tinggi di Paju.
Kekecewaan Lee Jae Myung mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pemerintah dalam membangun prestasi olahraga. Sejak menjabat, Lee telah menjadikan sepak bola sebagai prioritas, termasuk menunjuk mantan pemain timnas sebagai pelatih dan memberikan insentif bagi pemain yang tampil di liga Eropa. Namun, hasil di Piala Dunia menunjukkan bahwa investasi saja tidak cukup tanpa perbaikan sistem kompetisi domestik dan mentalitas pemain.
Bagi Indonesia, kegagalan Korea Selatan memberikan pelajaran berharga. Negeri Ginseng selama ini dianggap sebagai role model sepak bola Asia, dengan infrastruktur modern dan basis pemain yang kuat. Namun, kegagalan di turnamen terbesar dunia membuktikan bahwa persaingan global semakin ketat. Indonesia, yang tengah gencar membangun sepak bola melalui Liga 1 dan program naturalisasi, perlu mengevaluasi strategi jangka panjang agar tidak hanya bergantung pada investasi jangka pendek.
Menurut analis olahraga dari Universitas Nasional Seoul, Park Ji-sung, kegagalan ini disebabkan oleh kurangnya pengalaman internasional pemain muda dan ketidakmampuan beradaptasi dengan tekanan. โKami memiliki talenta, tetapi mentalitas di panggung dunia masih kurang. Ini harus diperbaiki dari level akar rumput,โ ujarnya. Pernyataan ini relevan bagi Indonesia, yang juga berjuang meningkatkan kualitas mental pemain di turnamen besar.
Ke depan, Korea Selatan diprediksi akan melakukan perombakan besar-besaran, termasuk kemungkinan pergantian pelatih dan evaluasi kurikulum pembinaan usia muda. Lee Jae Myung dijadwalkan bertemu dengan federasi sepak bola dalam waktu dekat untuk membahas langkah selanjutnya. Pertanyaan besarnya: mampukah Korea Selatan bangkit kembali pada Piala Dunia 2030, atau justru akan tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Jepang dan Australia?



