Duo Remaja Brasil: Endrick dan Rayan, Penerus Pele yang Lahir di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Endrick dan Rayan, dua pemain berusia 19 tahun, menjadi tulang punggung kebangkitan Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026 saat mengalahkan Jepang 2-1.
- Keduanya adalah pasangan remaja pertama yang bermain bersama untuk Brasil di Piala Dunia sejak Pele dan Mazzola pada 1958, menandai lahirnya generasi emas baru.
- Perjalanan mereka dari rival di level junior hingga bersatu di tim senior menunjukkan kedalaman skuad Brasil yang siap bersaing di panggung tertinggi.

Brasil tidak hanya lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Jepang 2-1, tetapi juga menemukan wajah baru yang siap mengukir sejarah: Endrick dan Rayan. Dua pemain berusia 19 tahun ini menjadi simbol regenerasi Seleção yang telah lama dinanti, membuktikan bahwa masa depan sepak bola Brasil sudah hadir di turnamen ini.
Dalam laga yang berlangsung sengit, Rayan tampil sebagai starter untuk kedua kalinya berturut-turut dan bermain penuh 90 menit, sementara Endrick masuk di babak kedua menggantikan Lucas Paqueta yang cedera. Kolaborasi mereka di lapangan menjadi kunci kebangkitan Brasil yang sempat tertinggal lebih dulu. Carlo Ancelotti, pelatih asal Italia, tidak ragu memberikan kepercayaan kepada kedua pemain muda ini di momen krusial.
Penampilan Rayan dan Endrick bukanlah kebetulan. Sejak fase grup, keduanya sudah menunjukkan kualitas. Saat melawan Haiti, mereka menjadi pasangan remaja pertama yang bermain bersama untuk Brasil di Piala Dunia sejak Pele (17 tahun) dan Mazzola (19 tahun) pada 1958. Rayan juga mencatatkan namanya sebagai pemain termuda keenam yang menjadi starter di Piala Dunia untuk Brasil, termuda sejak Marco Antonio pada 1970.
Jalan menuju panggung utama tidaklah sama bagi keduanya. Rayan, yang sempat diragukan masuk skuad, memanfaatkan cedera Raphinha untuk menunjukkan kemampuannya. Ancelotti memuji kontribusinya: "Rayan memberikan banyak hal, terutama lebar serangan yang kami butuhkan." Tekanan tinggi Rayan bahkan memaksa bek Skotlandia melakukan kesalahan yang berujung gol pembuka Brasil. Sementara itu, Endrick yang sempat menjadi cadangan di laga pembuka, perlahan mendapatkan peran lebih besar. Meski tidak mencetak gol, kehadirannya di kotak penalti lawan menciptakan ruang bagi rekan setimnya.
Kisah Endrick dan Rayan sebenarnya sudah dimulai sejak level junior. Pada 2022, mereka berhadapan di final Piala Dunia U-17 Copa do Brasil. Endrick membawa Palmeiras menang agregat 6-5 dengan mencetak dua gol di setiap leg, sementara Rayan juga mencetak gol untuk Vasco da Gama. Meski sempat berbeda jalur di timnas muda—Rayan menjadi starter di Kejuaraan U-20 Amerika Selatan 2023, sementara Endrick langsung promosi ke tim senior—Piala Dunia 2026 akhirnya mempertemukan mereka kembali.
Bagi Indonesia, kemunculan duo ini menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan usia dini. Brasil, yang dikenal dengan tradisi melahirkan bintang muda seperti Pele dan Neymar, kembali menunjukkan bahwa investasi pada akademi sepak bola adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Di tengah gempuran pemain naturalisasi, Indonesia bisa belajar dari konsistensi Brasil dalam memproduksi talenta lokal.
Dengan Norwegia menanti di babak 16 besar, Ancelotti dihadapkan pada pilihan menarik: tetap mempertahankan duet muda ini atau kembali ke pemain senior yang lebih berpengalaman. Namun, satu hal yang pasti, Endrick dan Rayan telah membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan. Akankah mereka menjadi Pele dan Mazzola baru yang membawa Brasil meraih gelar juara dunia? Atau justru menjadi awal dari era baru yang lebih gemilang?



