Kematian di Benteng Lohagad: Media Sosial dan Polisi Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Polisi menangkap tunangan dan temannya atas dugaan pembunuhan di benteng India, namun bukti masih diperdebatkan.
- Media dan warganet ramai menghakimi tersangka, terutama Siya, sebelum pengadilan memberikan vonis.
- Kasus ini mengungkap praktik polisi yang bocorkan teori ke media dan dampak negatif trial by the press.

Kematian seorang pemuda di Benteng Lohagad, Pune, India, pada 18 Juni lalu tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga kontroversi yang melibatkan polisi, media, dan opini publik. Ketan Agarwal (26) ditemukan tewas setelah jatuh ke jurang saat berkunjung bersama tunangannya, Siya Goyal (20). Awalnya peristiwa itu dianggap kecelakaan, namun beberapa hari kemudian polisi menangkap Siya dan temannya, Chetan Chaudhary (22), dengan tuduhan pembunuhan terencana.
Polisi menduga Siya dan Chetan menjalin hubungan asmara di belakang Ketan, dan mereka sengaja mendorong korban dari ketinggian. Namun, pengacara kedua tersangka membantah keras tuduhan itu. Mereka menilai penangkapan dilakukan tanpa bukti kuat dan hanya berdasarkan asumsi. Kuasa hukum Siya, Vipul Dushing, menyatakan kliennya tidak bersalah dan kooperatif selama penyidikan. "Penangkapan ini tidak perlu dan dilakukan secara terburu-buru tanpa alasan hukum yang jelas," ujarnya.
Kasus ini segera menjadi konsumsi publik yang masif. Media nasional India memberitakan secara intensif, sementara media sosial dibanjiri foto dan video pribadi Ketan dan Siya. Siya menjadi sasaran kebencian daring—ia disebut pembunuh meski proses hukum masih berjalan. Banyak warganet yang mengomentari video duka yang diunggah Siya sebelum ditangkap, mengejeknya sebagai akting belaka. Tagar dan postingan bernada menghakimi pun merebak, seperti "belajarlah menolak, jangan membunuh".
Polisi sendiri dinilai ikut menyulut kegaduhan. Petinggi kepolisian Pune, Sandeep Gill, menggelar konferensi pers dan membeberkan teori penyidikan yang belum terverifikasi. Inspektur Dinesh Tayade mengungkapkan bahwa keanehan pakaian Chetan—memakai hoodie saat suhu 33 derajat Celsius—menjadi petunjuk kunci. Namun, pengacara Chetan, Ram Shahane, menegaskan bahwa kliennya bukan orang dalam rekaman itu. "Polisi tidak punya bukti konkret Chetan berada di lokasi," katanya.
Langkah polisi membawa Chetan ke benteng untuk rekonstruksi dan analisis gaya berjalan menuai kritik. Kuasa hukum Siya menyebut metode itu tidak eksak dan hanya menunjukkan kemiripan, bukan identitas pasti. "Ini bukan ilmu pasti, tidak bisa dijadikan bukti mutlak," ujar Dushing. Praktik polisi yang "menyuapi" media dengan informasi sepihak ini mengingatkan pada kasus-kasus sensasional sebelumnya di India, seperti pembunuhan Aarushi Talwar, di mana opini publik terbentuk sebelum vonis pengadilan.
Keluarga korban dan tersangka sama-sama terpuruk. Ayah Ketan, Vishal Agarwal, menemui Ketua Menteri Maharashtra untuk menuntut keadilan dan hukuman mati. Sementara itu, ayah Siya, Praveen Goyal, pingsan dan dirawat di rumah sakit setelah penangkapan putrinya. Ibu Siya, Pooja Agarwal, membantah tuduhan bahwa Siya dipaksa menikah. "Kami bertanya berulang kali, dan dia bilang mencintai Ketan. Mereka bahagia," tuturnya.
Kasus ini menjadi pengingat betapa cepatnya peradilan media dapat menghakimi seseorang sebelum pengadilan resmi berbicara. Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, pertanyaan mendasar masih menggantung: apakah bukti polisi cukup untuk membuktikan konspirasi pembunuhan, ataukah ini sekadar tragedi yang diperkeruh oleh asumsi dan sensasi?



