Tukang Cukur Tradisional Bertahan di Tengah Gempuran Barbershop Modern
Baca dalam 60 detik
- Tukang cukur tradisional masih punya pangsa pasar berkat harga terjangkau dan layanan personal.
- Barbershop modern mengubah tren perawatan pria, namun tidak sepenuhnya menggeser peran tukang cukur keliling.
- Adaptasi menjadi kunci: sebagian tukang cukur mulai menambah layanan atau berpindah ke lokasi strategis.

Di tengah menjamurnya barbershop dengan interior kekinian dan harga selangit, para tukang cukur tradisional di berbagai kota justru menunjukkan daya tahan yang tak bisa dianggap remeh. Mereka bertahan dengan modal pengalaman puluhan tahun, tarif yang bersahabat, dan kedekatan personal dengan pelanggan setia.
Fenomena ini menarik dicermati, terutama ketika industri perawatan diri pria di Indonesia tumbuh pesat. Data dari Asosiasi Pengusaha Barbershop Indonesia mencatat pertumbuhan jumlah barbershop mencapai 15 persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Namun, di sisi lain, keberadaan tukang cukur tradisional yang biasa mangkal di pinggir jalan atau berkeliling kampung tidak lantas hilang. Mereka justru memiliki ceruk pasar yang stabil, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang mengutamakan efisiensi biaya.
Seorang tukang cukur yang telah beroperasi selama 30 tahun di Pasar Senen, Jakarta, mengungkapkan bahwa pelanggannya tidak pernah sepi. Ia menilai, barbershop modern dan tukang cukur tradisional sebenarnya melayani segmen yang berbeda. "Barbershop itu untuk yang mau gaya, saya untuk yang mau rapi dan murah," ujarnya sambil merapikan guntingnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa persaingan yang terjadi bukanlah zero-sum game, melainkan pembagian pasar yang alami.
Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Banyak tukang cukur tradisional yang mulai merasakan dampak perubahan gaya hidup, terutama generasi muda yang lebih memilih barbershop karena dianggap lebih higienis dan mengikuti tren. Untuk merespons hal ini, sebagian tukang cukur mulai beradaptasi. Mereka menambah peralatan modern, seperti alat sterilisasi, atau bahkan mengikuti pelatihan singkat untuk menguasai teknik potong rambut kekinian. Langkah ini diambil agar tetap relevan tanpa harus kehilangan identitas sebagai penyedia jasa yang murah dan bersahabat.
- Pertumbuhan barbershop di Indonesia mencapai 15% per tahun (Asosiasi Pengusaha Barbershop Indonesia).
- Tukang cukur tradisional melayani segmen dengan tarif rata-rata Rp15.000โRp25.000, jauh di bawah barbershop yang bisa mencapai Rp75.000.
- Sebagian besar tukang cukur tradisional telah beroperasi lebih dari 20 tahun dan memiliki pelanggan setia.
Adaptasi juga terjadi pada aspek lokasi. Beberapa tukang cukur yang tadinya keliling kini mulai menetap di depan warung atau dekat pasar dengan membuat lapak sederhana. Mereka memanfaatkan momen ramai, seperti pagi hari sebelum jam kantor atau akhir pekan, untuk menarik pelanggan. Strategi ini terbukti efektif, terutama di daerah padat penduduk seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Dari sisi ekonomi, keberadaan tukang cukur tradisional juga menjadi penyangga lapangan kerja informal. Banyak dari mereka yang tidak memiliki pendidikan tinggi, tetapi mampu menghidupi keluarga dari keahlian merapikan rambut. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong sektor informal sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah tukang cukur tradisional akan punah, melainkan bagaimana mereka bisa terus berinovasi. Dengan semakin sadarnya masyarakat akan pentingnya penampilan, bukan tidak mungkin tukang cukur tradisional akan mengadopsi teknologi digital, seperti menerima pesanan melalui aplikasi atau memanfaatkan media sosial untuk menjaring pelanggan baru. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin mereka justru menjadi pesaing serius bagi barbershop modern.



