AI Membuka Lembaran Baru bagi Sastra Klasik Tiongkok: Dari Pelestarian hingga Interpretasi
Baca dalam 60 detik
- Platform digital Shidian Guji, kolaborasi ByteDance dan Universitas Peking, menyediakan akses gratis ke lebih dari 70.000 karya kuno Tiongkok, termasuk 2.000 teks ilmiah tradisional yang baru dirilis.
- Proyek digitalisasi ini tidak hanya melestarikan manuskrip, tetapi juga memungkinkan 'pengembalian digital' naskah-naskah yang tersebar di luar negeri, seperti melalui kerja sama Sichuan University dengan UC Berkeley.
- Para akademisi mengingatkan bahwa AI harus digunakan secara bijak: membantu interpretasi dan analisis pola, namun tidak menggantikan kedalaman pemikiran kritis sejarawan dalam memahami konteks dan makna.

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi katalis baru dalam upaya Tiongkok mendigitalisasi warisan sastra kuno yang selama berabad-abad hanya dapat diakses oleh segelintir pakar. Melalui platform seperti Shidian Guji, yang diluncurkan pada 2022 oleh ByteDance dan Universitas Peking, lebih dari 70.000 karya klasik kini dapat diakses gratis oleh publik, sebuah lompatan besar dari metode tradisional yang menuntut keahlian khusus dan waktu bertahun-tahun.
Langkah ini merupakan bagian dari agenda nasional Tiongkok untuk memperkuat 'kepercayaan budaya' dan kesinambungan peradaban, sebagaimana tertuang dalam rencana lima tahun terbaru. Pemerintah di Beijing menilai bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali filosofi, nilai, dan moral yang terkandung dalam teks-teks kuno. Bahkan, Presiden Xi Jinping secara eksplisit mendukung pemanfaatan AI untuk 'transformasi kreatif' budaya tradisional, sebuah sinyal kuat bahwa digitalisasi bukan sekadar pelestarian, melainkan juga alat ideologis.
Di tengah gencarnya proyek ini, muncul pula inisiatif untuk memulangkan naskah-naskah yang tersebar di luar negeri. Kemitraan antara Sichuan University dan University of California, Berkeley, misalnya, berhasil mendigitalisasi hampir 10.000 judul langka pra-1912 dari Perpustakaan Asia Timur C.V. Starr. Proyek yang didanai Alibaba Foundation ini memberikan 'kehidupan digital baru' bagi teks-teks yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh segelintir peneliti. Hal serupa dilakukan Harvard-Yenching Library yang merilis lebih dari 6.000 buku langka, termasuk beberapa yang tidak memiliki salinan di daratan Tiongkok.
Namun, tantangan terbesar tidak hanya pada digitalisasi, melainkan pada interpretasi. Banyak teks kuno yang tidak memiliki tanda baca, referensi, dan sering kali sengaja dibuat samar. Tsui Lik-hang, profesor madya dari City University of Hong Kong, menegaskan bahwa AI membantu menghilangkan 'hambatan nyata' bagi pembaca modern dengan menambahkan tanda baca, glosarium, dan terjemahan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa AI tidak boleh menjadi pengganti pemahaman manusia. 'Interpretasi dalam humaniora bersifat majemuk dan diperdebatkan. Model AI yang memberikan satu pembacaan yang percaya diri dapat meratakan kompleksitas itu,' ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Kekayaan naskah kuno Nusantara, seperti lontar dan kitab-kitab kuno, juga menghadapi tantangan serupa dalam hal aksesibilitas dan pelestarian. Kolaborasi antara institusi akademik dan perusahaan teknologi seperti yang dilakukan Tiongkok dapat menjadi model bagi upaya digitalisasi warisan budaya di Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa adopsi AI harus diimbangi dengan pengembangan kapasitas peneliti lokal agar tidak terjadi ketergantungan pada teknologi asing.
Ke depan, pertanyaan yang muncul bukanlah apakah AI akan menggantikan sejarawan, melainkan bagaimana para akademisi dapat berperan aktif dalam membentuk sistem AI agar tidak menghilangkan nuansa interpretasi. Seperti yang ditegaskan Tsui, sejarawan adalah kritikus terlatih yang mampu menimbang bukti dan memperdebatkan makna. Di era AI, justru kemampuan inilah yang paling dibutuhkan untuk memastikan bahwa teknologi menjadi alat, bukan pengganti, dalam memahami masa lalu.



