Dari Niseko ke Eunos: Sentuhan Brutalisme Lembut dalam Apartemen Keluarga Muda
Baca dalam 60 detik
- Pasangan asal Singapura mengadaptasi suasana hangat penginapan ski Niseko ke apartemen empat kamar mereka, dengan bantuan desainer Sherman Chua.
- Desain interior memadukan elemen Brutalisme yang dilunakkan, seperti kabinet melengkung dan furnitur pahatan, untuk menciptakan suasana hotel yang nyaman.
- Proyek ini mencerminkan tren hunian yang mengutamakan kehangatan dan fungsionalitas, sekaligus menunjukkan potensi pasar furnitur custom di Asia Tenggara.

Kenangan akan liburan snowboarding di Niseko, Jepang, telah menjelma menjadi filosofi desain sebuah apartemen di Eunos, Singapura. Joshua Choo dan Marilyn Lim, pasangan suami istri yang bekerja di industri pelayaran, berhasil menghadirkan nuansa hangat dan kemewahan yang tenang dari penginapan Suiboku ke dalam rumah empat kamar mereka. Lebih dari sekadar tren, keputusan mereka mencerminkan pergeseran prioritas generasi muda urban: rumah bukan hanya tempat tinggal, melainkan ruang untuk memulihkan diri dari hiruk-pikuk kota.
Suiboku, koleksi loteng di Upper Hirafu Village, dikenal dengan perpaduan estetika industri dan elemen desain Jepang. Beton ekspos, baja, dan kayu dilunakkan oleh lampu kertas serta tikar jerami mushiro. Bagi Choo, kontras antara tekstur mentah dan kemewahan modern itulah yang paling membekas. “Apartemen itu memiliki keseimbangan indah antara material yang kasar dan sentuhan akhir yang bersih dan kontemporer. Membuat ruang terasa unik dan tak lekang waktu,” kenangnya. Suasana musim dingin yang nyaman, saat kembali dari salju dan beristirahat, menjadi memori yang ingin mereka ulang di rumah sendiri.
Alih-alih meniru persis interior Suiboku, Choo dan Lim ingin menangkap esensinya: kehangatan, kenyamanan, dan kemewahan yang tidak mencolok. Mereka pun mempercayakan visi ini kepada Sherman Chua, pendiri praktik desain Song & Opera, yang juga teman lama Choo sejak sekolah dan masa wajib militer. Chua, yang terinspirasi oleh bahasa desain arsitektur Brutalis, justru memilih untuk menafsirkannya ulang. “Alih-alih mengadopsi materialitas mentah secara langsung, saya terinspirasi oleh kualitas pahatan dan bentuk monolitik yang sering dikaitkan dengan gerakan tersebut, dan menafsirkannya kembali melalui lensa yang lebih lembut dan intim,” jelas Chua. Hasilnya, elemen-elemen kaku seperti beton dan baja diterjemahkan menjadi kabinet dengan pegangan membulat, tepi dinding melengkung, dan furnitur pahatan yang organik.
Perjalanan desain ini dimulai dari kebutuhan ruang. Apartemen pertama mereka di One Pearl Bank yang hanya satu kamar terasa sempit, terutama setelah pandemi. “Kami berencana untuk memiliki anak,” kata Choo. Kepindahan ke Eunos juga bertujuan mendekatkan diri dengan keluarga besar. Di hunian baru ini, Chua merombak total tata letak. Dapur kering yang semula terpisah dibuka menjadi dapur galley, dan sekat kaca dihilangkan untuk menciptakan aliran ruang yang lebih luas. Area makan digeser mendekati dapur, sementara ruang tamu diperluas. Titik fokus ruang tamu bukan lagi televisi, melainkan sofa custom berbentuk organik dan meja kopi asimetris yang mengundang percakapan. Meja makan bundar berwarna hitam dengan kaki menonjol menjadi pusat perhatian, dirancang khusus oleh Chua. “Ini hal yang khas Asia,” ujarnya, sambil Choo menambahkan, “Cocok untuk malam poker.”
Salah satu elemen paling mencolok adalah kabinet panjang di foyer yang melayang dan melengkung di salah satu ujungnya, seperti gulungan kertas. Kabinet ini multifungsi: menjadi tempat minibar, rak sepatu, dan area duduk. Di dalamnya tersembunyi minibar yang muncul dari ide Chua untuk mengakomodasi hobi mereka menerima tamu. “Kami suka menjamu,” kata Choo. Dengan tata letak terbuka, para tamu dapat bergerak bebas antara minibar, ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Kabinet ini juga menjadi galeri mini untuk memorabilia, termasuk patung anjing yang mengingatkan mereka pada Aussiedoodle kesayangan, serta pemutar piringan hitam—hobi Choo sejak usia 20-an.
Perhatian terhadap detail juga terlihat di kamar tidur utama. Chua memperkecil dinding yang menghubungkan kamar tidur dengan ruang belajar Choo untuk menambah ruang lemari. Kepala tempat tidur pahatan berdiri di dinding bertekstur beton, sementara kamar mandi menggunakan palet lebih gelap dengan ubin hitam dan meja marmer tebal. Ruang cuci baru menggantikan kamar kecil di dekat pintu masuk. Sentuhan main-main seperti tiga lampu dinding berbentuk jendela kapal di ruang tamu menambah karakter, mengingatkan Choo pada suasana hotel.
Bagi Choo, keterlibatannya dalam proses desain adalah hal yang dinikmati. “Saya sering pindah saat muda, dan orang tua saya selalu melibatkan kami dalam memilih furnitur,” kenangnya. Ia juga mengapresiasi ketelitian Chua yang “sangat cermat, memikirkan detail yang bahkan tidak akan saya pikirkan.” Pengalaman Chua di bidang perumahan butik dan perhotelan terlihat dari cara ia merencanakan ruang dan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat rumah terasa praktis sekaligus istimewa.
Ke depannya, tren hunian yang mengedepankan kenyamanan dan personalisasi seperti ini diprediksi akan semakin diminati, terutama di kota-kota padat seperti Singapura dan Jakarta. Pertanyaannya, akankah semakin banyak desainer lokal yang berani menawarkan furnitur custom untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh? Atau justru pasar akan dibanjiri produk-produk impor dengan harga lebih murah namun kurang bernyawa? Jawabannya akan menentukan arah industri desain interior di Asia Tenggara.



