Sara Foster Buka Suara Soal Rencana Operasi Payudara Kedua: 'Saya Butuh Puting Saya Kembali'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sara Foster, 45, mengaku mempertimbangkan operasi payudara kedua setelah implan pertamanya pada 2014 mulai menimbulkan masalah.
- Ia memperingatkan risiko operasi melalui puting, yang menyebabkan hilangnya sensasi di area tersebut, dan kini mencari solusi untuk memulihkannya.
- Foster juga berbagi pengalaman soal tekanan usia dan perawatan kecantikan, menyebut usia 38 sebagai tahun paling memuaskan secara penampilan.

Aktris Sara Foster, yang dikenal lewat perannya di sejumlah serial televisi, kembali menjadi sorotan setelah secara terbuka mempertimbangkan operasi payudara keduanya. Dalam sebuah wawancara terbaru, perempuan berusia 45 tahun itu mengungkapkan bahwa implan yang ia pasang pada 2014 mulai memerlukan perbaikan—bukan karena masalah estetika, melainkan efek samping yang mengganggu kualitas hidupnya.
Foster mengatakan bahwa ia kehilangan sensasi di area puting setelah operasi pertama, dan kondisi itu tak kunjung pulih. "Ini kisah peringatan. Jika kalian berpikir untuk melakukan operasi ini, jangan melalui puting," ujarnya dalam acara The Morgan Stewart Show. Ia bahkan bercanda bahwa ia rela membayar siapa pun yang bisa mengembalikan sensasi di putingnya. Meski belum menjalani operasi kedua, Foster mengakui bahwa waktunya mungkin sudah dekat.
Di luar masalah teknis operasi, Foster juga menyoroti tekanan sosial yang kerap mendorong seseorang membandingkan diri dengan orang lain. "Kita tidak bisa melihat apa yang orang lain lakukan lalu berkata, 'Aku ingin seperti itu,' karena anatomi kita tidak memungkinkan," tegasnya. Ia mencontohkan pengalaman pribadi saat seorang dermatolog mengatakan bahwa ia memerlukan operasi angkat alis di usia 25—sebuah komentar yang sangat menyinggung perasaannya.
Foster mengaku kini lebih berhati-hati dalam memilih perawatan. Ia menghindari suntikan di area pipi dan hanya melakukan Sculptra di pelipis, sebuah prosedur yang dianggapnya aman. "Jika Botox yang salah mengenai saya, semuanya akan kendur. Saya punya dahi yang rumit," jelasnya. Sikap hati-hati ini mencerminkan tren di kalangan selebritas yang mulai meninggalkan prosedur invasif demi pendekatan yang lebih alami dan terukur.
Foster juga merefleksikan perjalanan emosionalnya menjelang usia 40. "Tahun tersulit bagi saya adalah 39. Saya mengalami serangan panik. Anda punya satu tahun lagi. Kenapa Anda tidak bahagia? Kenapa Anda tidak memiliki semua yang diinginkan?" kenangnya. Namun, ia justru merasa paling cantik di usia 38—sebuah pengakuan yang menantang anggapan umum bahwa kecantikan puncak terjadi di usia muda.
Kisah Foster menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, tekanan untuk tampil sempurna dan keputusan medis yang diambil di masa muda dapat membawa konsekuensi jangka panjang. Di Indonesia, tren operasi plastik juga meningkat, terutama di kalangan selebritas dan masyarakat urban. Namun, kurangnya edukasi tentang risiko seperti yang dialami Foster sering kali terabaikan. Para ahli menyarankan agar konsultasi menyeluruh dilakukan sebelum memutuskan prosedur kosmetik, termasuk memahami potensi efek samping yang mungkin permanen.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya apakah Foster akan menjalani operasi kedua, tetapi sejauh mana industri kecantikan akan beradaptasi dengan meningkatnya kesadaran akan risiko dan preferensi terhadap solusi non-invasif. Dengan semakin banyaknya figur publik yang berbicara terbuka tentang pengalaman mereka, mungkin akan lahir standar baru dalam perawatan estetika yang lebih mengutamakan keamanan dan kesejahteraan jangka panjang.



