Gempa Flores: Polri Kerahkan Pasukan SAR hingga K9, Evakuasi Jadi Prioritas Utama
Baca dalam 60 detik
- Polri memprioritaskan evakuasi dan keselamatan warga pascagempa M7,7 di Flores, NTT, dengan mengerahkan personel dan logistik secara bertahap.
- Kendala komunikasi di sejumlah wilayah menghambat pendataan korban, namun koordinasi antara Mabes Polri dan Polda NTT terus diperkuat.
- Dukungan dari Polda terdekat, pasukan SAR Brimob, serta tim K9 disiapkan untuk mempercepat pencarian dan pertolongan korban.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8) memicu respons cepat Polri. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa evakuasi dan keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana ini. Langkah ini diambil untuk memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan pertolongan secepat mungkin di tengah kondisi yang masih dinamis.
Polri tidak hanya mengerahkan personel dari Polda NTT, tetapi juga menyiapkan pasukan SAR Brimob dari Pasukan Pelopor yang akan diberangkatkan Sabtu malam. Satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) pasukan SAR, enam personel kesehatan, dan dokter akan membawa peralatan SAR untuk membantu pencarian korban. Selain itu, tim kesehatan dan Disaster Victim Identification (DVI) disiapkan untuk identifikasi korban, sementara tim K9 (anjing pelacak) akan dikerahkan pada tahap berikutnya untuk mencari korban di reruntuhan bangunan.
Kendala komunikasi di sejumlah wilayah daratan Flores menjadi tantangan dalam pendataan korban dan kerusakan. Johnny mengakui bahwa data masih terus dihimpun dan diverifikasi karena kondisi lapangan yang dinamis. "Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Untuk data korban dan kerusakan masih terus dihimpun dan diverifikasi," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Untuk memastikan penanganan berjalan efektif, Kapolda NTT bersama unsur forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) berencana meninjau langsung wilayah terdampak. Polda NTT juga telah memerintahkan seluruh kapolres untuk mendirikan posko-posko bantuan di lokasi aman, guna mendukung pelayanan dan distribusi bantuan kepada masyarakat.
Di tingkat Mabes Polri, koordinasi operasional dan logistik telah dilakukan sejak pagi. Dukungan dari Polda NTB, Polda Bali, dan Polda Jawa Timur disiapkan sebagai cadangan, termasuk kapal tipe A untuk mobilisasi bantuan. Logistik tahap pertama berupa 10 set tenda peleton, 10 unit WiFi portabel, dan 240 dus makanan cepat saji akan diterbangkan menggunakan pesawat CN-295 dari Pondok Cabe.
Polri juga bersinergi dengan TNI, Basarnas, BPBD, dan pemerintah daerah dalam penanganan darurat. Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait jumlah korban atau isu tsunami dan gempa susulan. "Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya," tegas Johnny.
Bagi warga Indonesia, respons cepat Polri ini menjadi penting karena NTT merupakan daerah rawan gempa dan tsunami. Kesiapan logistik dan personel dari berbagai daerah menunjukkan komitmen pemerintah dalam penanganan bencana. Namun, efektivitas evakuasi masih bergantung pada aksesibilitas wilayah dan akurasi data di lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana koordinasi antarlebaga ini akan berlanjut, terutama dalam pemulihan jangka panjang. Akankah dukungan logistik dan personel terus diperkuat seiring berkembangnya kebutuhan di lapangan? Polri memastikan dukungan akan terus dilakukan sesuai perkembangan situasi, namun evaluasi berkala tetap diperlukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.



