Gempa NTT: Kemenkes Beri Tenggat Seminggu untuk Pemulihan RSUD, Fokus pada Layanan Kritis
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kesehatan menargetkan delapan RSUD terdampak gempa NTT kembali beroperasi penuh dalam seminggu, dengan prioritas pada operasi trauma, kesehatan ibu dan anak, serta hemodialisa.
- Dari 21 rumah sakit di wilayah terdampak, satu belum beroperasi dan empat beroperasi sebagian; RSUD Nagekeo yang rusak berat akan mendapat bantuan rumah sakit mobil.
- Puskesmas yang rusak ditargetkan pulih dalam dua pekan, sementara Kemenkes menyiapkan bantuan logistik dan tim medis untuk mempercepat pemulihan layanan kesehatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memasang target ketat: delapan rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus mampu menjalankan operasional dasar paling lambat satu pekan setelah bencana. Prioritas layanan yang dikejar meliputi operasi trauma, kesehatan ibu dan anak, serta hemodialisa—tiga jenis pelayanan yang paling dibutuhkan dalam situasi darurat.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, mengungkapkan bahwa koordinasi telah dilakukan secara daring dengan seluruh kepala dinas kesehatan, direktur RSUD, dan kepala puskesmas dari delapan kabupaten/kota terdampak. “Target paling lama satu minggu, seluruh RSUD harus bisa melakukan operasional dasar. Fokus ke layanan Operasi Trauma, Ibu & Anak, Hemodialisa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (16/8/2026).
Berdasarkan laporan situasi Pusat Krisis Kesehatan per 15 Agustus 2026, dari 21 rumah sakit di wilayah terdampak, 16 masih beroperasi penuh, empat beroperasi sebagian, dan satu belum beroperasi sama sekali. Daerah yang terkena dampak meliputi Kabupaten Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur. Total populasi yang terdampak mencapai 2.196.745 jiwa, dengan korban jiwa tercatat 46 orang, 36 luka berat, dan 77 luka ringan.
Kondisi fasilitas kesehatan tingkat puskesmas juga memprihatinkan. Dari 190 puskesmas di delapan kabupaten/kota tersebut, 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum beroperasi. Untuk mengatasi kesenjangan layanan, Kemenkes akan mengirimkan satu set rumah sakit mobil ke RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan berat. Fasilitas ini dilengkapi ruang operasi untuk mendukung pelayanan medis darurat. “Akan dikirim set RS Mobil (termasuk fasilitas ruang operasi) ke Nagekeo,” kata Agus.
Sementara itu, RSUD Borong yang masuk program Quick Win dengan target rujukan dua jam dan RSUD Komodo dengan target rujukan empat jam disiapkan sebagai rumah sakit rujukan dari Nagekeo. Langkah ini diambil untuk memastikan pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut dapat segera ditangani di fasilitas yang lebih siap.
Untuk puskesmas, Kemenkes menargetkan seluruh fasilitas yang rusak dapat beroperasi minimal dalam dua pekan, dengan fokus pada layanan kesehatan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi. “Diharapkan dalam 2 minggu seluruh Puskesmas yang rusak sudah beroperasi minimal kembali, fokus ke layanan ibu hamil, melahirkan dan imunisasi,” ujar Agus. Dari laporan yang sama, tercatat 20 puskesmas mengalami kerusakan berat, 37 sedang, dan 11 ringan.
Kemenkes juga akan melakukan identifikasi rinci mengenai masalah kesehatan, fasilitas kesehatan, alat kesehatan, dan kebutuhan obat-obatan di wilayah terdampak. Data ini akan menjadi acuan bagi tim relawan untuk menentukan lokasi penugasan, kebutuhan, dan kontak yang harus dihubungi. “Identifikasi detail masalah kesehatan, faskes, alkes, kebutuhan obat-obatan akan diselesaikan team HEOC. Agar bisa dipakai sebagai acuan team relawan; datang ke mana, butuhnya apa, kontaknya siapa,” jelas Agus.
Sebelumnya, Kemenkes telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di sembilan lokasi, termasuk tingkat provinsi dan delapan kabupaten/kota terdampak. Dua tim manajemen krisis kesehatan dan dua Emergency Medical Team (EMT) juga telah dimobilisasi untuk memperkuat penanganan bencana. Bantuan logistik seperti obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan, dan oksigen konsentrator telah disiapkan. Pada pengiriman hari Minggu (16/8/2026), tercatat delapan paket obat dasar, lima emergency kit, 1.000 handscoon steril, 20.000 handscoon nonsteril, 20.000 masker bedah medis, 10 unit oksigen konsentrator, serta dua tenda pos kesehatan.
Dengan tenggat yang ketat, tantangan terbesar adalah memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan koordinasi antarinstansi berjalan mulus. Apakah target satu pekan untuk RSUD dan dua pekan untuk puskesmas realistis mengingat kerusakan infrastruktur yang parah? Keberhasilan pemulihan layanan kesehatan ini akan menjadi ujian bagi kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional dalam menghadapi bencana serupa di masa depan.



