Gelombang Panas Eropa Pecahkan Rekor Suhu, Hungaria dan Slovakia Krisis Air
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Slovakia dan Hungaria menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 41,3ยฐC dan 42ยฐC.
- Krisis air bersih melanda sejumlah kota, dengan warga mengantre pasokan air darurat dan pemerintah meminta penghematan.
- Fenomena ini menjadi alarm bagi negara tropis seperti Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Gelombang panas yang melanda Eropa tengah sejak pekan lalu memecahkan rekor suhu tertinggi di Hungaria dan Slovakia, memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah dan mendorong pemerintah setempat mengeluarkan imbauan penghematan air secara drastis.
Pada Selasa (30/6), Slovakia mencatat suhu 41,3 derajat Celsius di Kamenica nad Hronom, wilayah selatan yang berbatasan dengan Hungaria. Angka ini mengalahkan rekor sebelumnya yang baru saja tercipta sehari sebelumnya, yakni 41 derajat Celsius. Sementara itu, Hungaria menorehkan suhu 42 derajat Celsius di Szecseny, melampaui rekor nasional 41,9 derajat Celsius yang bertahan sejak 2007, menurut layanan cuaca HungaroMet.
Kenaikan suhu ekstrem ini memicu krisis pasokan air di beberapa kota. Di Nitra, kota terbesar kelima di Slovakia, warga harus mengantre air bersih yang didatangkan menggunakan truk tangki. Kondisi serupa terjadi di sebuah desa perbukitan di barat laut Budapest, Hungaria, di mana keran air telah kering dan warga membawa jeriken serta botol plastik untuk mengisi air dari mobil tangki di pinggir jalan di tengah suhu 41 derajat Celsius.
Andras Arki, seorang mahasiswa berusia 23 tahun, mengaku air tersebut digunakan untuk minum dan memberi minum hewan ternak. "Terutama untuk melepas dahaga, dan kami juga harus memberi minum hewan," ujarnya kepada AFP.
Perdana Menteri Hungaria Peter Magyar secara khusus meminta masyarakat untuk mengurangi penggunaan air yang tidak penting, seperti menyiram halaman rumput dan mencuci mobil. Imbauan ini dikeluarkan setelah beberapa kota memberlakukan pembatasan konsumsi air dan meningkatkan status siaga panas ke level tertinggi selama beberapa hari terakhir.
Gelombang panas yang melanda Eropa tengah ini telah berlangsung lebih dari sepekan dan memecahkan rekor suhu di sejumlah negara. Para ahli meteorologi menilai fenomena ini terkait dengan perubahan iklim global yang meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi gelombang panas dan krisis air, terutama di kota-kota besar yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Ke depan, negara-negara di kawasan tropis seperti Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini cuaca ekstrem, mengelola sumber daya air secara berkelanjutan, dan mengedukasi masyarakat tentang adaptasi terhadap suhu tinggi. Pertanyaannya, apakah infrastruktur dan kebijakan kita saat ini sudah cukup tangguh menghadapi skenario suhu ekstrem yang semakin mungkin terjadi?



