Anak Wali Kota di Filipina Masuk Daftar Buronan FBI atas Penipuan US$650 Juta
Baca dalam 60 detik
- Rey E. Grabato II, putra Wali Kota Mina, Iloilo, diburu FBI atas dugaan skema Ponzi yang merugikan 2.000 investor hingga US$650 juta.
- Grabato didakwa melakukan penipuan sekuritas dan penggelapan pajak, dengan hadiah US$150.000 bagi yang memberi informasi.
- Kasus ini menyoroti meningkatnya pengawasan global terhadap kejahatan keuangan, dengan implikasi bagi investor dan regulator di Asia Tenggara.

Rey E. Grabato II, putra dari Wali Kota Mina di Iloilo, Filipina, kini masuk dalam daftar buronan penipuan paling dicari FBI. Ia dituduh terlibat dalam skema investasi yang merugikan sekitar 2.000 investor hingga lebih dari US$650 juta, sebuah kasus yang mengguncang kepercayaan publik terhadap pengelolaan dana investasi.
Grabato II, yang juga dikenal dengan nama Rey Encarnacion Grabato II, adalah mantan presiden dan pemilik mayoritas National Realty Investment Advisors LLC (NRIA). Ia menghadapi dakwaan penipuan sekuritas, penipuan kawat, dan konspirasi untuk menipu pemerintah Amerika Serikat terkait pajak. FBI menawarkan hadiah hingga US$150.000 bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan dan vonisnya.
Menurut jaksa federal, skema ini beroperasi antara Februari 2018 dan Januari 2022. Grabato dan rekannya, Thomas Nicholas Salzano, diduga menggunakan representasi palsu untuk meyakinkan investor agar menanamkan modal di NRIA Partners Portfolio Fund I LLC, sebuah dana real estat. Mereka gencar memasarkan produk ini melalui ribuan email, iklan televisi, radio, papan reklame, dan presentasi investor di seluruh Amerika Serikat.
Investor diyakinkan bahwa NRIA dalam kondisi keuangan yang sehat dan menghasilkan keuntungan besar. Namun, kenyataannya, perusahaan tersebut hanya menghasilkan sedikit atau bahkan tidak ada keuntungan sama sekali. Pembayaran kepada investor awal justru berasal dari dana investor baruโciri khas skema Ponzi. Selain itu, Grabato dan rekan-rekannya diduga menyalahgunakan jutaan dolar dari dana investor untuk kepentingan pribadi.
Kasus ini tidak hanya berhenti pada penipuan investasi. Grabato juga dituduh terlibat dalam skema terpisah untuk menghalangi upaya Internal Revenue Service (IRS) dalam menagih sekitar US$26 juta tunggakan pajak yang terutang kepada pemerintah AS. Skema pajak ini diduga berlangsung dari November 2007 hingga Agustus 2022.
Surat perintah penangkapan federal dikeluarkan pada 12 Oktober 2022, setelah Grabato didakwa di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik New Jersey di Newark. Saat itu, ia tercatat berdomisili di Hoboken, New Jersey, dan Filipina. Ia tetap buron, sementara Salzano telah ditangkap pada Oktober 2022.
Grabato bergabung dengan beberapa buronan lain yang memiliki kaitan dengan Filipina dalam daftar Most Wanted Fraudsters yang diluncurkan FBI pada Juni 2026. Daftar ini dibuat untuk menyoroti para pelaku kejahatan besar yang melarikan diri. Beberapa nama lain termasuk Michael Lizaso Marasigan, yang dihukum pada Mei 2025 atas perjudian ilegal, pencucian uang, dan penipuan kawat, serta pasangan John Michael Dimitrion dan Julieanne Baldueza Dimitrion yang melarikan diri setelah mengaku bersalah dalam skema penipuan hipotek di Hawaii.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap industri investasi dan perlindungan konsumen. Maraknya skema Ponzi di berbagai negara, termasuk Indonesia, menuntut regulator untuk lebih proaktif dalam mendeteksi dan menindak praktik penipuan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan lembaga terkait perlu terus memperkuat literasi keuangan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan yang tidak realistis.
FBI mengimbau siapa pun yang memiliki informasi tentang keberadaan Grabato untuk menghubungi kantor FBI setempat atau kedutaan/konsulat AS terdekat. Dengan masuknya nama Grabato dalam daftar buronan paling dicari, tekanan internasional untuk menangkapnya semakin besar. Apakah kasus ini akan menjadi titik balik bagi penegakan hukum di kawasan, atau justru menunjukkan celah yang masih bisa dimanfaatkan para penipu? Hanya waktu yang bisa menjawab.



